SEKOLAH Alam, Ciganjur, Jagakarsa. Jakarta Selatan, sudah dikenal seantero Indonesia. Promosi dari mulut ke mulut antarorangtua murid dan alumni menjadikan peminat ke sekolah ini semakin membeludak setiap tahunnya. Bahkan calon orangtua murid rela menginap untuk mengantre mendaftarkan anak mereka ke sekolah di ruang terbuka Ini. Hanya untuk mendapatkan formulir pendaftaran, ratusan calon orangtua siswa rela mengantre berjam-jam dari bermalam di halaman sekolah. Jumat (5/2) sore pekan lalu hingga Sabtu 16/2) pagi. Mereka bertahan di lokasi pendaftaran semalaman, mengingat keterbatasan kursi yang disediakan oleh pihak sekolah. .
Jumlah bangku sekolah yang terbatas mengakibatkan banyaknya orangtua yang kecewa tidak Jadi menyekolahkan anaknya di sini. Ya. sejak dua tahun terakhir memang seperti Ini. Banyak yang menginap, bahkan datang sejak pukul 15.30 pada hari sebelumnya,” Ungkap Iman Santoso. Ketua Yayasan Alamku. Sekolah Alam Indonesia kepada Warta Kota, saat ditemui di sekolah yang berlokasi di Jalan Anda 7X. Ciganjur. Jagakarsa. Jaksel. Itu.
Sekolah Alam kali Ini hanya menyediakan 60 kursi siswa baru. Dari Jumlah tersebut, pihak sekolah menyediakan sekitar 113 formulir pendaftaran. Sejak sore hingga lengah malam, puluhan calon orangtua siswa terus berdatangan ke lokasi. Pihak sekolah akhirnya Juga menyediakan kursi dan tenda. Padahal, animo yang sangat tinggi ini hanya untuk mengisi sejumlah kursi kosong yang ada di playgroup, taman Kanak-kanak (TK), dan sekolah ddsar (SD).
Saat dibuka pada 1998. sekolah Ini hanya memiliki delapan murid dan enam guru. Saat Ini Jumlah muridnya mencapai 373 siswa (TK- SMP) dengan 66 guru. Para siswa berasal dari berbagai kalangan dari Jabodetabek. Jawa Barat, bahkan dari Surabaya. Beberapa pejabat negara dan artis juga menyekolahkan anak mereka di sini, antara lain artis Ine Febriyanti dan Fadli Padi.
Dikatakan Iman, konsep sekolah yang tidak biasa yang menyebabkan tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di sekolah alam. Hingga akhirnya pada 2005 sekolah tni membuka cabang di
Rawakopl. Pangkalanjall. Cinere, Depok. Sesuai namanya, sekolah ini memang berbasis alam. Siswa dalam kesehariannya belajar di alam terbuka tanpa ada tembok kelas yang biasa ditemui di sekolah biasa. Siswa Juga belajar berternak. outbond. kegiatan olahraga, dan berkebun. Terdapat beberapa hewan unggas, empang kecil, rumah pohon, serta pepohonan buah yang dipasangi nama-nama tumbuhannya.
Pantauan Warta Kola. Sekolah Alam tidak memiliki gedung dan bangunan sekolah seperti pada umumnya. Siswa biasa belajar di sejumlah saung-saung kayu yang dibentuk nyaman dan asri. Sebagian besar lahan sekolah adalah tanah lapang dengan berbagai permainan. Siswa yang belajar di sekolah seluas 7.200 m2 Ini bisa merasa nyaman dan tidak terbebani dengan sistem pembelajaran.
Untuk playgroup, pihak sekolah menyediakan 22 kursi, TK sebanyak lima kursi, dan SD 33 kursi. Seluruh siswa melakukan kegiatan belajar- mengajar di alam hingga kelas empat SD dan selanjutnya dipindahkan ke Rawakopl. Para siswa tidak mengenakan pakaian seragam, namun harus rapi dan sopan. Meskipun kegiatan belajar- mengajar dilakukan di ruang terbuka dan banyak permainan, para siswa tidak ketinggalan dalam prestasi. “Beberapa siswa kiti bahkan dapat nilai 10 untuk ujian sekolah, mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris.” ujarnya. (Ahmad Sabran)
15 Feb 2010
Warta Kota
