SAI Gelar Konser Berjuta Bintang di Langit Sekolah Kita
JAKARTA (Bisnis.com): Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang pertama di Indonesia, akan mengadakan konser musikal dengan tema Berjuta Bintang di Langit Sekolah Kita untuk mengisi kekosongan lagu anak-anak saat ini, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, besok, 19 Juni, pk 15:30-18:00.
”Syair dalam lagu-lagu tersebut merupakan pengalaman batin para guru ketika mereka mendedikasikan dirinya di lingkungan SAI Ciganjur,” kata Ko-produser album yang juga Ketua Panitia Konser Veranita, kepada Bisnis.com, tadi sore.Dia mencontohkan lagu berjudul Samudra. Embrio lagu tersebut, katanya, dimulai ketika beberapa siswa kesulitan menghafal nama-nama samudera di dunia. Kemudian Novi Hardian, seorang guru yang sudah cukup lama berada di lingkungan SAI mencoba merangkai nama-nama samudra itu dalam nada-nada yang riang. Setelah lagu itu diperkenalkan kepada anak didiknya, maka mereka pun dengan muda menghafal nama-nama samudra.
Kisah serupa pun mengiringi sejarah terciptanya lagu-lagu Jiwa Pemberani, Berjuta Bintang, Senandung Cinta, Nyanyian Malam, Uang, Days of The Week, dan Always Together.
“Kehadiran album Berjuta Bintang di Langit Sekolahku ini merupakan sebuah kumpulan lagu anak edukatif karya guru-guru Sekolah Alam Indonesia,” katanya.
Pihaknya mengharapkan kehadiran album tersebut bisa mengembalikan dunia anak-anak serta memperkaya khasanah musik anak di Indonesia.
Konser yang berlangsung selama 2,5 jam itu didukung oleh musisi-musisi ternama seperti Fadly & Rindra PADI, Bintang Indrianto, Hendri Lamiri, Ronny Waluya, Netta KD, Afwan dan Novi IZIS, dinyanyikan oleh grup vokal yang terdiri dari siswa-siswi SAI dari berbagai tingkat.
Munculnya ide untuk meluncurkan album tersebut, kata Veranita, karena beberapa tahun belakangan ini terdapat kekosongan lagu-lagu anak-anak. Untuk mengisi kekosangan lagu-lagu anak-anak, maka pihaknya meluncurkan album yang telah dipersiapkan sejak 6 bulan yang lalu itu. (ln) Oleh: Reni Efita Hendry.
Sumber: www.bisnis.com / Jumat, 18/06/2010
Sekolah Alam: Membangkitkan Naluri Bisnis Sejak Dini
JAKARTA, KOMPAS.com – Di sekolah alam, kegiatan berbisnis menjadi bagian dalam kurikulum pembelajaran. Dalam skup yang lebih sederhana, sekolah secara rutin menyelenggarakan Market Day, yang mengajak semua siswa berkesempatan mempromosikan, menjual, serta mengelola barang dagangan mereka.
Buat kami, ini adalah upaya nyata untuk membangun life skill anak-anak.
– Pepen Supendi
Kegiatan seperti itu bisa dilihat di Sekolah Alam Indonesia (SAI), misalnya. Dengan kegiatan market day tersebut, konsep-konsep pembelajaran kewirausahaan justeru semakin nyata dipelajari oleh peserta didik, karena mereka langsung mendapatkan penjelasan dari para pengusaha yang sudah terbukti berhasil membangun usaha mereka.
“Meskipun hampir semua pembicara adalah orang tua dari siswa-siswi sekolah ini,” ujar Kepala Sekolah Alam Indonesia Pepen Supendi di “Business Gathering: Melatih Naluri Bisnis Anak Sejak Dini” di Sekolah Alam Indonesia, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (8/5/2010).
Pepen mengatakan, kegiatan ini sengaja digelar untuk membangun dan melatih kemampuan dan minat anak terhadap dunia usaha. Untuk mencapai tujuan itu, SAI sengaja menghadirkan para pelaku usaha yang sudah terbukti berhasil mengembangkan bisnis mereka di antaranya Iim Rusyamsi (Presiden TDA/Komunitas Bisnis Tangan Di Atas), Hikmat Kurnia (pengusaha penerbitan), Ahmad Sadat (pengusaha sapi impor), Sony Alfa (penulis buku Quantum Resign), serta Habibie Afsyah, pemuda difabel yang sukses dalam internet marketing sekaligus penulis buku “Kelemahanku adalah Kekuatanku”.
Dalam kegiatan ini, anak-anak diberikan gambaran mengelola suatu usaha agar dapat menghasikan keuntungan dan bermanfaat bagi orang banyak, yang salah satu kegiatannya berupa Bussines Forum dan Investor Forum. Bukan hanya anak-anak, bahkan orang tua siswa pun ikut menjadi peserta kegiatan.
“Mereka mendapatkan wawasan mengenai cara memilih usaha yang tepat, mengelola modal, dan memperbesar bisnis. Buat kami, ini adalah upaya nyata untuk membangun life skill anak-anak,” ujar Pepen.
Terlihat, dari kegiatan tersebut sekolah alam memang memiliki konsep yang unik dalam mendidik siswa-siswinya. Pendekataan nyata akan sebuah pembelajaran menjadi sangat penting agar anak-anak mengerti apa yang mereka pelajari untuk bekal hidupnya di masa depan, bukan semata nilai dan angka-angka.
Senin, 10 Mei 2010 20:16 WIB
Belajar Pada Alam
SEKOLAH Alam, Ciganjur, Jagakarsa. Jakarta Selatan, sudah dikenal seantero Indonesia. Promosi dari mulut ke mulut antarorangtua murid dan alumni menjadikan peminat ke sekolah ini semakin membeludak setiap tahunnya. Bahkan calon orangtua murid rela menginap untuk mengantre mendaftarkan anak mereka ke sekolah di ruang terbuka Ini. Hanya untuk mendapatkan formulir pendaftaran, ratusan calon orangtua siswa rela mengantre berjam-jam dari bermalam di halaman sekolah. Jumat (5/2) sore pekan lalu hingga Sabtu 16/2) pagi. Mereka bertahan di lokasi pendaftaran semalaman, mengingat keterbatasan kursi yang disediakan oleh pihak sekolah. .
Jumlah bangku sekolah yang terbatas mengakibatkan banyaknya orangtua yang kecewa tidak Jadi menyekolahkan anaknya di sini. Ya. sejak dua tahun terakhir memang seperti Ini. Banyak yang menginap, bahkan datang sejak pukul 15.30 pada hari sebelumnya,” Ungkap Iman Santoso. Ketua Yayasan Alamku. Sekolah Alam Indonesia kepada Warta Kota, saat ditemui di sekolah yang berlokasi di Jalan Anda 7X. Ciganjur. Jagakarsa. Jaksel. Itu.
Sekolah Alam kali Ini hanya menyediakan 60 kursi siswa baru. Dari Jumlah tersebut, pihak sekolah menyediakan sekitar 113 formulir pendaftaran. Sejak sore hingga lengah malam, puluhan calon orangtua siswa terus berdatangan ke lokasi. Pihak sekolah akhirnya Juga menyediakan kursi dan tenda. Padahal, animo yang sangat tinggi ini hanya untuk mengisi sejumlah kursi kosong yang ada di playgroup, taman Kanak-kanak (TK), dan sekolah ddsar (SD).
Saat dibuka pada 1998. sekolah Ini hanya memiliki delapan murid dan enam guru. Saat Ini Jumlah muridnya mencapai 373 siswa (TK- SMP) dengan 66 guru. Para siswa berasal dari berbagai kalangan dari Jabodetabek. Jawa Barat, bahkan dari Surabaya. Beberapa pejabat negara dan artis juga menyekolahkan anak mereka di sini, antara lain artis Ine Febriyanti dan Fadli Padi.
Dikatakan Iman, konsep sekolah yang tidak biasa yang menyebabkan tingginya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di sekolah alam. Hingga akhirnya pada 2005 sekolah tni membuka cabang di
Rawakopl. Pangkalanjall. Cinere, Depok. Sesuai namanya, sekolah ini memang berbasis alam. Siswa dalam kesehariannya belajar di alam terbuka tanpa ada tembok kelas yang biasa ditemui di sekolah biasa. Siswa Juga belajar berternak. outbond. kegiatan olahraga, dan berkebun. Terdapat beberapa hewan unggas, empang kecil, rumah pohon, serta pepohonan buah yang dipasangi nama-nama tumbuhannya.
Pantauan Warta Kola. Sekolah Alam tidak memiliki gedung dan bangunan sekolah seperti pada umumnya. Siswa biasa belajar di sejumlah saung-saung kayu yang dibentuk nyaman dan asri. Sebagian besar lahan sekolah adalah tanah lapang dengan berbagai permainan. Siswa yang belajar di sekolah seluas 7.200 m2 Ini bisa merasa nyaman dan tidak terbebani dengan sistem pembelajaran.
Untuk playgroup, pihak sekolah menyediakan 22 kursi, TK sebanyak lima kursi, dan SD 33 kursi. Seluruh siswa melakukan kegiatan belajar- mengajar di alam hingga kelas empat SD dan selanjutnya dipindahkan ke Rawakopl. Para siswa tidak mengenakan pakaian seragam, namun harus rapi dan sopan. Meskipun kegiatan belajar- mengajar dilakukan di ruang terbuka dan banyak permainan, para siswa tidak ketinggalan dalam prestasi. “Beberapa siswa kiti bahkan dapat nilai 10 untuk ujian sekolah, mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris.” ujarnya. (Ahmad Sabran)
15 Feb 2010
Warta Kota
Antre Formulir Masuk Sekolah, Puluhan Orang Tua Rela Menginap
Jakarta – Kasih orang tua memang luar biasa. Hanya untuk mendapat antrian agar anaknya bisa masuk Sekolah Alam Indonesia di Ciganjur, Jagakarsa, Jaksel, puluhan orang tua rela menginap.
Aksi yang dilakukan orang tua ini memang bukan hal yang wajar. Pasalnya, sejak Jumat,(5/2) kemarin mereka sudah berdatangan untuk mengantri. Menunggu mendapat formulir pendaftaran masuk ke Sekolah Alam Indonesia.
Pantauan detikcom, pukul 03.00 WIB, puluhan orang tua tersebut masih bertahan di sekolah. Sebagian dari mereka sudah ada yang terlelap dan sisanya masih terjaga. Saking niatnya di antara mereka juga ada yang membawa matras sebagai alas tidur.
Sedianya, pendaftaran sekolah tersebut baru akan dibuka pukul 07.30 WIB nanti. Namun pihak panitia membuat aturan bahwa orang tua yang tidak duduk pada kursi yang disediakan tidak akan mendapat formulir untuk mendaftar.
“Sejak pukul 4 sore, saya antri. Sebelum antri untuk bisa duduk sekitar pukul 9 malam baru saya bisa masuk untuk mengambil nomor antrian,” ujar salah satu orang tua yang ikut mengantre, Tina (35) di lokasi.
Bukan tanpa alasan, Tina rela berkorban untuk anaknya agar bisa masuk. Menurutnya, pendidikan di sekolah alam dinilai terbukti membuat anak-anak menjadi lebih cerdas.
“Demi anak saya ikhlas antri. Mudahan-mudahan masuk,” ungkapnya.
Menurut Ketua Yayasan Sekolah Alam Ciganjur, Iman Santoso pendaftaran kali ini merupakan yang ke-12. Setiap dibuka, peminat selalu membludak. Padahal sekolah ini hanya menampung kelas kecil.
“Berapa kali buka peminatnya selalu banyak. Masyarakat menganggap lulusan dari sini membuat anak berprestasi dan jadi lebih unggul,” terangnya.
“Untuk pendaftaran ini, kita membuka untuk SD 7 orang TK 5 orang,” tambahnya.
(ape/ape)
<strong>Zainal Abidin</strong><strong> – detikNews</strong>
Sabtu, 06/02/2010 03:47 WIB
No picnic, but a school that’s losts of fun
Sitting quietly in a circle on the floor of a two-story gazebo, the children can see their friends planting seedlings and playing on a rope climbing frame in the garden.
“Can we learn math first today?,” asked Alfa, one of the third grade students.
His two teachers responded at once, asking the other students for approval before kicking off the day with Math.
“It is acceptable here for students to negotiate with their teachers. This gives them the feeling of learning because they want to, not because they are obliged to,” said Pepen Supendi, the 29-year old headmaster of Sekolah Alam (School of Nature) in Ciganjur, South Jakarta.
The school occupies some three hectares of land, mostly grassy areas and gardens, and has 270 students.
“People think that quality education comes at a price due to the cost of facilities,” Pepen said. “In fact, we can minimize all of that by learning from nature.”
First grade students, for example, can learn the word “leaf” better in a garden than in a classroom, he said.
Keeping expenses to a minimum, the school provides 12 wooden gazebos as its classrooms. “Most of our activities are conducted outdoors, anyway,” Pepen said.
The school also awakens children’s curiosity as they learn through experience.
Though the national curriculum is adhered to in part, teachers have a different way of evaluating students. “We do not want to make them learn just to get good grades,” said the headmaster, an agricultural college graduate.
The school’s 30 teachers are trained to evaluate their students’ progress in leadership, logic and moral values.
“We evaluate their skills by reviewing whether they know what they have learned here, and what more they want to learn,” Pepen said, showing a sample assessment card on which there were only symbols showing a child’s progress instead of the common A, B, C or scores.
“We are providing children with knowledge that is useful, including the importance of being independent,” he said.
In its annual camp, even 5-year-old students are asked to wash their own clothes.
Dasayoga Isbanu, the father of three girls who attend the school, said his daughters’ knowledge was broader than other children’s. “The two younger children, who started studying there earlier, show more maturity than the eldest child in terms of empathy, emotional intelligence and leadership,” he said. “That kind of education is rarely offered, it is worth the sacrifice.”
Fees for enrollment in preschool to junior high school grades range from Rp 1.5 million to Rp 2 million, with monthly fees between Rp 300,000 and Rp 500,000.
Though school is never a picnic, the School of Nature offers a learning experience with a difference.
City News – July 22, 2005
The Jakarta Post, Jakarta
