Penerapan Taxonomy Bloom

“Katakanlah (hai Muhammad),” Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.”  (QS Al Ahzab : 9)

 “Anda adalah  cermin dari pikiran-pikiran Anda sendiri” (Muhammad Al Ghazali )

Belajar adalah suatu aktivitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa, untuk mencapai hasil yang optimal (terjadi proses perubahan). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

blooms_taxonomy

Berpikir melibatkan manipulasi otak terhadap informasi seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan. Secara garis besar, unsur manusia meliputi ranah akal (lintasan pikiran, memori, ide/gagasan), ranah emosi (keyakinan, kemauan, tekad) serta ranah fisik (tindakan, kebiasaan, karakter). Kualitas pikiran-pikiran kita akan membentuk kualitas kepribadian kita dan kualitas kepribadian kita akan membentuk kualitas hidup kita

Menurut Benjamin bloom, aktivitas pendidikan melibatkan kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif : wilayah perkembangan perasaan/emosi (attitude) dan psikomotor: kemampuan fisik (skills).  Taxonomy bloom adalah penilaian kognitif yang dikembangkan oleh Benyamin Bloom sejak tahun1950 dan merupakan model yang paling dipakai di dunia.

Dalam taxonomy Bloom, ketrampilan berpikir dibagi menjadi 6 tingkat, mulai dari tingkat berpikir yang paling dasar sampai ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu:

1. Mengetahui: kemampuan mengetahui atau mengingat istilah, fakta, aturan, urutan, metode dan lain-lain. Ini berkaitan dengan daya ingat (C1)

2. Memahami: kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, memahami isi pokok, dan mengartikan tabel. Berkaitan dengan daya serap (C2)

3.Menerapkan: kemampuan memecahkan masalah, membuat bagan, menggunakan konsep, kaidah, prinsip, dan metode .

4. menganalisis: kemampuan memisahkan, membedakan seperti merinci bagian-bagian, hubungan antar. Berkaitan dengan daya analisis (C3).

5. mensintesa: keterampilan mnyusun seperti karangan, rencana, program kerja dan sebagainya. Berkaitan dengan daya kontruksi (C4)

6. mengevaluasi: kemampuan menilai berdasarkan norma, seperti menilai mutu karangan. Berkaitan dengan daya cipta (C5)

Hirarki/tingkatan kemampuan berpikir ini dapat kita tingkatkan dengan cara terus berlatih. Misalnya dari pelajarah sejarah tentang perang Diponegoro. Kita bisa mengeksplorasinya untuk meningkatkan kemampuan berpikir dengan menanyakan kapan terjadi perang Diponegoro (C1)? Mengapa terjadi perang Diponegoro (C4)? Apa hubungan antara Revolusi Industri di Eropa dan perang Diponegoro (C4)? Dan lain-lain.(dk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: