SAI Castle: Benteng Pertahanan Keharmonisan

Dinginnya Minggu pagi 19 Februari 2012, tidak mendinginkan semangat anak-anak SD1 Eyes-Ears untuk ber-SAI Castle, tema yang kami angkat untuk Family Gathering tahun ini. Anak-anak itu tetap bersemangat menghangatkan ayah bundanya untuk segera berangkat dengan iming-iming cerita seru dari guru kelasnya, “nyebur empang dan nangkep lele!”.

Rintiknya hujan melahirkan derasnya tawa gembira anak-anak dan keluarga besar SD1 Eyes-Ears. Sambil menunggu track-track ala benteng takeshi disiapkan, orangtua siswa tak kurang akal untuk menghangatkan suasana pagi dengan spontaneous story telling seru ala Pak Teguh “Sang Motivator” ayahnya Mumtaz dan kisah canda khas pak Oki “Mr. Pret” ayahnya Najwa.

Acara pun dibuka resmi dengan memanggil Kak Ivo sang Presiden Siswa SAI sebagai MC. Diawali dengan tasmi’ Surat Al Ghasyiyah dari semua siswa SD1 Eyes-Ears yang berpakaian putih-putih dan dilanjutkan dengan sambutan dari Dewan Kelas SD1 Eyes-Ears yang diwakili oleh Pak Trisna ayahnya Yasmeen. Penampilan indah berikutnya dari anak-anak SD1 adalah drama tentang terjadinya pelangi yang disambut tepuk tangan meriah dari para orangtua.

Lepas itu, masuklah kita ke acara inti: SAI Castle alias benteng SAI! Menguatkan keharmonisan keluarga besar SD 1 dengan membangun benteng pertahanan bersama dalam tantangan keluarga, yeaa …!!!

36 keluarga yang hadir dipanggil satu per satu untuk foto keluarga dengan background pelangi, yang menjadi tema pelajaran pekan ini. Seluruh keluarga dibagi menjadi 3 kelompok dan setelah itu track demi track dilalui dengan bersemangat. Permainan menara air, lumayan bikin deg- degan. Air seember ditaruh di atas bambu, dan tali tali penyangganya dipegang oleh sekitar 10 pasang ayah-anak. Di tengah jalan, ayah berganti dengan ibu untuk ambil alih talinya.Wow, lumayan tegang! Berhasil? Ooh, tentuuu!!

Setelah itu adalah permainan Api PON. Ini lebih menantang lagi. Para ayah ditantang untuk membawa 1 lilin dengan yang dinyalakan, sedangkan para anaknya membawa 1 ekor lele, menyebrangi empang berlumpur dan merunduk melindungi sang api lilin sampai ke obor bambu untuk dinyalakan dengan api dari lilin tadi. Itu belum seberapa, nanti di tengah empang, rombongan pembawa lilin api akan mendapat cobaan dari ‘para pengacau’ yang dikomandoi oleh Pak Bucho, yang dengan sengaja dengan menghujani api lilin dengan air selang dan cipratan air empang. Tujuannya tentu saja agar para pendekar keluarga itu, alias para ayah, tidak berhasil memelihara api tetap menyala. Mantabs! Ada yang berhasil ? Alhamdulillah, meski ada yang harus kembali lagi dari awal karena sang lilin mati di tengah guyuran air, akhirnya semua kelompok sukses menyalakan obor bambu di seberang empang.

Euforia kegembiraan tertumpah deras saat semua keluarga turun kaki di area play ground sekolah yang sudah dipenuhi air hujan berwarna coklat bercampur dengan lumpur dan puluhan lele yang sengaja dilepas. Sudah tak jelas terlihat lagi mana lele sungguhan, mana kaki dan tangan orang. Yang penting: tangkap!  Ada bakat-bakat terpendam sebagai calon pengusaha balong lele, yang berhasil menangkap beberapa ekor lele, sementara ada yang hanya senyum-senyum kecut karena tak seekorpun lele berhasil di tangkap. Yang pasti, di akhir acara, semua ayah, bunda, anak-anak, para guru dan seluruh pasukan tertangkap kamera dengan tawa lepas belepotan lumpur.

Wah, senangnya tak terkira! Apalagi sebagai ganti tenaga yang terkuras akibat tantangan demi tantangan permainan yang harus diselesaikan, kami ditantang kembali untuk menghabiskan ayam bakar, urap sayuran, tempe bacem dan aneka minuman segar sampai es krim. Sungguh, kekompakan dewan kelas, orang tua, siswa dan guru kelas tampak terjaga terus hingga tetes sampah penghabisan, alias tak ada makanan tersisa. Kalaupun ada makanan sisa, dengan sigap barisan ibu-ibu langsung membungkusnya untuk bekal di rumah. Maklum, kabarnya para ibu libur masak hari itu karena sibuk mempersiapkan diri untuk acara special ini J Terimakasih banyak untuk Mister Bucho, Bu Rika dan seluruh ‘pasukan’ yang dikerahkan: “Bahkan untuk menyenangkan hati orangtua pun, para guru itu sukses berat!” (rn/dk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: