Mbatik satu, tumbuh seribu..

Oleh: Fadilah Isnaini (Fasilitator TK A Tempe)

 Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Rasanya kalimat ini tepat untuk digunakan sebagai ungkapan atas seFoto TKA Membatik 1suatu yang indah. Salah satunya adalah ketika kita melihat batik. Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia.

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua dari batik adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.

Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai  Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.(Wikipedia Bahasa Indonesia). Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

 Hari Rabu tanggal 10 Oktober lalu, TK A Tempe dan Tahu melakukan kegiatan membatik  “membuat saputangan” . Kegiatan ini dirancang sesuai tema BAJUKU yang ada di TK A. Para siswa sangat antusias menyimak keterangan tata cara membatik, bahan yang digunakan dan menikmati setiap tahapan prosesnya. Antrian panjangpun tidak terasa karena rasa keingintahuan mereka.

Karena yang diperkenalkan adalah teknik dasar membatik, guru memilihkan media yang dirasa aman untuk siswa TK A, yang usianya sekitar 4,5 -5 tahun, dengan menggunakan kuas cat warna sebagai pengganti canting (alat membatik) yang dicelup ke dalam lelehan lilin. Pergantian alat ini  diharapkan tidak mengurangi esensi membatik itu sendiri.

Setelah mencelupkan kuas ke dalam lilin yang sudah dipanaskan, siswa mengikuti pola utama yang telah disediakan seperti pola mobil, pesawat, pohon, bunga dan bintang sesuai pilihan siswa. Kemudian siswa menambahkan pola sesuai imajinasi dan kreativitasnya masing-masing. Selesai membuat pola, siswa mencelupkan kain mori putih sebagai bahan dasar pola, ke dalam pewarna batik –biru atau merah- sesuai pilihan, kemudian menjemurnya. Tahapan selanjutnya seperti pewarnaan tahap dua, yaitu pelorotan (pencelupan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin) diselesaikan oleh guru.

Lewat kegiatan ini, siswa TK A Tahu dan Tempe belajar dan mendapatkan pengalaman baru tentang perubahan benda padat menjadi cair (melelehnya lilin), perubahan warna (pewarnaan kain), juga sebagai stimulasi daya imajinasi dan kreativitasnya. Lebih jauh lagi, membatik bukan hanya untuk stimulus kreativitas dan latihan konsentrasi saja, tetapi lebih kepada mengenalkan warisan budaya Indonesia sejak dini. Kegiatan ini bukan saja untuk dilakukan di sekolah namun juga bisa dilakukan di rumah bersama keluarga, yang diharapkan bisa menjadi salah satu hobi di keluarga dalam usaha ikut melestarikan budaya Indonesia. Selamat membatik dan menularkan mbatik.(rn/dk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: