A Nice Boy Make Me Falling in Love

Oleh: Dian Fitriana (Fasilitator SAI Cabang Cibinong)

Tak terasa semester ganjil tahun ajaran kali ini akan segera berakhir. Kebersamaanku dengan anak-anak membuatku larut dalam waktu, tawa dan tangis. Mereka pun mewarnai hidupku. Anak-anak yang awalnya asing dengan kehadiranku, kini mereka sudah sangat akrab denganku dan menerimaku sebagai ibu guru mereka.

sekolahalamcibinongbranches1sekolahalamcibinongbranches2sekolahalamcibinongbranches3sekolahalamcibinongbranches4sekolahalamcibinongbranches5

Bilal adalah salah satu muridku di TK A Padi. Muhammad Bilal Fauzan itulah nama lengkapnya. Dia adalah muridku yang sangat cerdas, kritis, dan analitis. Kalau bertanya, Bilal akan bertanya sangat detail, sampai aku hampir kehabisan jawaban. Pertama aku mengenalnya, analisator satu  ini tidak begitu mudah untuk beradaptasi dengan orang lain. Bilal akan mempelajari orang yang sedang ada di hadapannya. Biasanya dia akan diam sebelum memutuskan untuk berbicara dengan orang baru tersebut.

Di awal sekolah, Bilal baik-baik saja. Dia menerimaku dan mengikuti instruksi dengan baik. Sayang waktu itu Bilal hanya mau berbicara sedikit denganku. Saat buka kelas, Bilal belum mau ikut menari dan bernyanyi. Dia hanya memperhatikan, tapi tetap diam. Pernah suatu hari aku dan murid-muridku sedang mengerjakan prakarya, Bu Pipin masuk ke kelas dan melihat kegiatan yang sedang kami lakukan. Ketika beliau menyapa Bilal, langsung Bilal ‘freeze’  beberapa waktu sampai Bu Pipin memutuskan untuk meninggalkan kami. “Adek Bilal sedang buat apa? Ok, nanti kalau sudah jadi kasih tau Bu Pipin ya!” kata Bu Pipin memaklumi sikap Bilal kala itu. Ketika Bu Pipin meninggalkan kami, dia bertanya, “Bu Pipin sedang apa bu Dian?”. Aku tersenyum sambil menjawab,  “ Bu Pipin ke kelas mau tahu, Bilal sedang membuat apa. Lain kali dijawab ya nak, tidak perlu malu”. Bilal kembali melanjutkan pekerjaannya. Bilal memang perasa dan pemalu, tapi dibalik itu ia adalah anak yang kuat dan seorang pelari yang sangat cepat.

Seperti biasa setelah buka kelas, aku membacakan buku untuk anak-anak. Kali ini judulnya “Ada yang bisa dibantu?”. Buku itu menceritakan tentang anak yang senang membantu orang-orang di sekitarnya. Ketika membacakannya, aku mengibaratkan anak yang di buku itu adalah Bilal dan Raissa, dan yang dibantu adalah orang-orang yang ada di sekolah atau rumah. Setiap aku membuka lembaran dari buku tersebut, langsung saja Bilal berkata, “ Itu adek Bilal sedang bantu ayah.”  Raissa pun tak mau ketinggalan, “ Itu ada adek Rasissa sedang bantu bu Dian”.  “Iya…”, kataku. Mereka kelihatan sangat senang ketika aku membacakan buku tersebut.

Keesokan harinya, matahari telah menampakkan wajahnya dengan riang. Itu tandanya aku harus segera bersiap masuk kelas. Bilal sering kali datang lebih awal dari Raissa. Aku tengah mempersiapkan box berisikan buku dan perlengkapan KBM hari ini. Ketika keluar dari kantor sambil membawa box buku,  aku melihat Bilal sedang berdiri di dekat pintu kantor. Iya, ternyata dia menungguku dari tadi. Aku langsung menghampirinya seraya berkata, “Adek Bilal masih disini? Adek menunggu Bu Dian ya? Yuk, kita ke kelas!”  Bilal mengangguk mengiyakan. Saat aku mengajaknya berjalan, Bilal masih diam di tempatnya. Dari raut wajahnya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Kuhampiri sekali lagi,” Bilal, ayo kita ke kelas nak…”.  Tiba-tiba Bilal mengatakan sesuatu kepadaku dengan malu-malu, “Bu Dian, ada yang bisa dibantu…?”. Subhanallah, Bilal muridku yang diam itu ternyata memperhatikan setiap apa yang kukatakan. Tak kukira secepat ini ia dapat mempraktekkan apa yang aku sampaikan kemarin.  Lalu akupun berkata padanya, “Subhanallah, iya Adek boleh bantu Bu Dian. Mau bantu bawa apa?”. “ Crayon…”, jawab Bilal. Belum pernah aku merasakan kebahagiaan yang seperti ini. Kebahagiaan yang terasa sangat berbeda…

Setelah hari itu, Bilal selalu membantuku. Cerita itu rupanya sangat melekat baginya. Akhirnya Raissa, dan teman-teman di TK-B lainnya pun senang membantu. Setiap pulang sekolah, mereka otomatis akan bertanya, “Bu Dian, ada yang bisa di bantu?”.

Seiring berjalannya waktu, Bilal masih tetap seorang anak yang perasa. Hanya  perkembangannya saat ini  sudah jauh lebih baik. Bilal sudah mudah untuk diarahkan,  mulai mau bernyanyi dan menari saat buka kelas. Ikut melompat ketika aku melompat, berlari ketika aku berlari, dan tak lupa bertanya, “Bu Dian, ada yang bisa dibantu?” (dk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: