Pendakian Gunung Slamet (*Ciwambha284)

Pendakian ke Gunung Slamet ini merupakan rangkaian kelanjutan pendakian  gunung – gunung sebelumnya oleh guru Sekolah Alam Indonesia. Tahun 2010 ke Gunung Gede Pangrango, tahun 2011 ke Gunung Ciremai Jawa Barat. Tahun 2012 ke Gunung Lawu dan April2012 ke Gunung Merapi Jawa Tengah. Tahun 2013 ini akan ke Gunung Slamet.

Rencana dan persiapan

Tiga bulan sebelum pelaksanaan pendakian, kami mulai lihat annual program sekolah untuk menentukan tanggal berapa kami akan berangkat. Pendakian kami laksanakan setelah kegiatan sekolah sudah selesai semua alias libur.Sambil mempersiapkan perlengkapan perbekalan dan teknis acara kegiatan, kami juga melakukan persiapan fisik, dengan berenang, futsal dan naik sepeda.Serta pengkondisian diri dan keluarga.

Pendakian ini kami rencenakan jauh –jauh hari karena mode transportasi yang kami rencanakan menggunakan kereta, sehingga tiket kereta harus sudah kami pesan sebelumnya, karena biasanya tiket dibeli mendekati hari pemberangkatan harganya naik.Sebulansebelum pelaksanaan kami sudah beli tiket kereta berangkat dan pulangnya. Diawal rencana hanya kami berdua ( aku dan pakSopyan) tetapi mendekati hari pembelian tiket kereta pak Alif dan pak Tri (OTS KB)menyatakan  ingin bergabung dan ikut dalam pendakian ke gunung lawu kali ini.Aku beli tiket kereta atas nama aku, pak Sopyan, pak Alif. Pak Tri tidak sempat aku belikantiket kereta karena sampai waktu pembelian beliau tidak sempat kirim nomor kartu penduduk, sehingga beliau membeli sendiri. Kami bertiga kumpul berkoordinasi merencanakan kegiatan pendakian ini, mulai dari rencana kegiatan, penyusunan menu makanan dan pembagian tugas membawa perlengkapan kelompok dan bekal makanan yang akan dibawa saat pendakian dan menyepakati bendera atau symbol  Arengyang akan kami bawa dalam pendakian ini. Termasuk pak Tri kebagian tugas juga.Rencana kegiatan sudah dibuat, perlengkapan dan perbekalan sudah disiapkan, tiket kreta sudah dibeli, tinggal menunggu waktu berangkat.6 hari menjelang pemberangkatan pak Dodi berminat ingin bergabung tetapi terkendala tidak bisa berangkat bersama karena tiket kami berempat sudah terbeli, ia  ingin menggunakan mobil untuk menyusul kami dan bertemu di kota tujuan. Selain itu ia juga harus mencari teman dalam perjalanan menggunakan mobil karena ia tidak ingin sendirian. 5 hari menjelang pemberangkatan kami tanyakan kepastiannya jadi ikut atau tidak dalam pendakian ini.PakDodi meyakinkan diri untuk tetap ikut tetapi belum dapat teman dalam perjalanan menggunakan mobil. Hari itu juga kami koordinasi team, kebetulan pakTri juga ada, akhirnya kami semua sepakat akan berangkat bersama menggunakan mobil pakDodi dan kami yang sudah membeli tiket kereta mengembalikan tiketnya dengan konsekuensi terkena potongan 25% dan dananya baru bisa diambil 30 – 45 hari setelah pembatalan.

Hari yang direncanakan tiba.Kami berempat bertemu dan berkumpul di sekolah, hari senin jam 17.00 wib. Persiapan akhir dan pengecekan perlengkapan dan perbekalan sampai jam 18.00 tidak ketinggalan juga kami pastikan bendera atau symbol Areng terbawa. Ba’da sholat magrib kami koordinasi dengan pakTri, ternyata beliau sudah siap dan menunggu dijemput.Kami berangkat pukul 19.00 wib.Sebelum menjemput pakTri kami sempatkan makan malam dan membeli makanan dan minuman untuk makan dan minum di mobil.Kami jemput pakTri di Cilandak.Jam ditangan menunjukan pukul 20.00 wib cuaca gerimis mengundang. Lest go…berangkat….

Mobil meluncur menyusuri ramainya lalulintas jalan raya Cilandak dan TB simatupang. Perjalanan melambat karena padatnya antrian mobil yang akan masuk jalan tol lingkar luar Jakarta melewati pintu tol Ampera ICilandak.Selepas pintu tol, mobil melanju dengan kencang meluncur dengan pasti dan penuh kehatian-hatian.Mobil terus melaju. Perjalanan melambat karena kami harus masuk tol cikampek, disini pakDodi sang pemegang kendali mobil harus mengambil tiket masuk tol.Perjalanan terus berlanjut sampai di rest area kami berhenti untuk sholat isa dan istirahat sebentar.Perjalanan dilajutkan, ada pergantian pemegang kendali mobil.PakTri sekarang yang mengendalikan mobil melanjutkan perjalanan menyusuri panjangnya jalan tol Cikampek.Mendekati pintu keluar tol Cikampek perjalanan melambat dan sempat terhenti karena penuhnya antrian.Keluar pintu tol Cikampek mobil melaju dengan kecepatan sedang sekitar 60 km/jam melewati jalan dengan guyuran gerimis yang belum berhenti juga.Pukul 01.00 dini hari mobil berhenti sejenak di pom bensin perlu pergantian driver dan buang air kecil.Perjalanan dilanjutkan terus sampai memasuki tol Kanci Cirebon.Keluar tol Kanci Cirebon perjalanan mobil belok kanan menuju arah Purwokerto.Terus melaju sampai pada pertigaan kanan ke Purwokerto, ke kiri kearah Guci Tegal.Disini perjalanan berhenti sebentar untuk sholat shubuh dan istirahat di pom bensin.Setelah selesai semua perjalanan diteruskan belok kiri ke arah Guci Tegal. Jam 06.00 perjalanan sampai di pasar Bojong kamiistirahat untuk sarapan dan koordinasi dengan teman untuk menitipkan mobil. Dikantor temanku ini perjalanan mobil selesai untuk sementara. Kita istirahat dan mempersiapkan diri sambil menunggu mobil pickup yang akan mengantarkan kami ke desa kaliwadas,desa terakhir dalam jalur pendakian menuju puncak Gunung Slamet.

08.15 mobil pickup datang, kami ngobrol sebentar dengan sopirnya pakCipto namanya.Kami ceritakan dan sampaikan rencana pendakian ini.Kami minta pakCipto dengan pickupnya mengantarkan kami ke kaliwadas dan menjemput kami di kaliwadas juga pada saat kami turun dari gunung nanti.Pukul 08.30 kami semua naik mobil pickup untuk diantarkan ke kaliwadas desa terakhir untuk menuju puncak Gunung Slamet.Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan yang berkelak-kelok dan naik turun.Dalam perjalanan ini kami belum bisa melihat tingginya Gunung Slamet karena tertutup awan dan  gerimis mengundang. Pandangan mata lebih asik melihat bentang alam yang didominasi bukit dan lembah, petak-petak sawah  berhiaskan tanaman sayur-mayur yang tertata rapi, bermahkotakan kabut tipis menerpa ditiup semilir angin gunung yang dingin.  Setelah melewati beberapa perkampungan dan perkebunan sampailah kami di desa kaliwadas. Singgah sebentar di rumuh Bu Kaji, orang yang dituakan di desa Kaliwadas sebagai bentuk permohonan ijin dan  pemberitahuan bahwa kami berlima akan mendaki Gunung Slamet.Kami disuguhi teh hangat yang begitu nikmat rasanya hari itu.Setelah menghabiskan minuman teh hangat yang disuguhkan kami berdoa untuk keselamatan kami semua dalam melakukan pendakian ini dan berpamitan ke Bu Kaji bahwa kami siap berangkat.

Kenapa lewat Kaliwadas

Kita kembali kepersiapan awal.Pendakian gunung slamet itu ada empat jalur yang aku tahu.Melalui jalur Baturaden,Bambangan Purwokerto, Kedawung Pemalang dan Guci Tegal.Aku  danPak Sopyan sudah pernah melakukan pendakian ke gunung Slamet melewati jalur Bambangan walau tidak bersamaan sehingga kami memilih melewati jalur yang lain. Kami berencana lewat sisi utara gunung, kesana dengan menggunakan kereta sehingga jalur pilihannya  yaitu melalui Kedawung dan kereta dari Jakarta turun di Stasiun Pemalang. Sampai pada pembelian tiket kereta kami masih  tetap merencanakan pendakian melalui kedawung. Seiring waktu kami juga mencari informasi keteman aku yang ada di Semarang dan yang ada di Tegal.Teman aku yang di Semarang menyarankan aku melalui kedawung dan kereta dari Jakarta turun di stasiun Pemalang, tetapi teman aku yang di Tegal menyarankan aku naik kereta dari Jakarta turun di Tegal. Aku membeli tiket kereta berangkat sekaligus beli tiket kereta api untuk pulangnya juga. Tiket kereta berangkat  dariJakarta turun di pemalang dan tiket kereta pulang dari kota tegal. 6 hari sebelum berangkat P dodi berminat ingin ikut bergabung dalam pendakian ini dan menyusul dengan menggunakan mobil, maka aku mencari informasi ke teman yang ada ditegal untuk mengetahui kemungkinan  untuk menitipkan mobil. Teman aku yang diTegal memberi saran kalau mau menitipkan mobil bisa dikantor dia, dan dia memberi informasibahwa dari kantor dia bisa diantarkan ke desa  terakhir dengan menggunakan mobil pickup untuk melakukan pendakian ke puncak Gunung Slamet dan waktu tempuhnya relative lebih cepat bila dibanding waktu tempuh dari Kedawung Pemalang. Informasi ini aku sampaikan pak Sopyan dan pakAlif, mereka sepakat.5 hari menjelang pemberangkatan kami mendapat kepastian bahwa p dodi jadi bisa membawa mobil maka dipilihlah jalur pendakian ke puncak Gunung Slamet melewati desa Kaliwadas.

Pendakian Dimulai

Pagi itu cuaca sedang hujan, puncak gunung Slamet tertutup awan tebal. Jam ditangan menunujukan pukul 10.00, kami berangkat dari rumah Bu Kaji. Kami diantar mobil pickup yang kami sewa sampai batas ujung jalan desa.Tidak terlalu lama kami sampai di ujung jalan desa. Kami turun dari pickup dan mengambil tas carier kami masing-masing. Kami berjalan menyusuri bukit, jalan tanah setapak naik turun, kanan kiri jalan ada semak-semak dan tanah pertanian . Hawa dingin dan aroma tanah basah terasa sangat menyegarkan .20 menit berlalu, kami melewati danau kecil ( Tuk Suci ) yang aliran air sungainya sebagian dibendung dan dibuat saluran dari pipa-pipa untuk mengarahkan aliran air supaya bisa  melewati semua desa-desa yang ada dibawahnyaternyata disampingnya ada bangunan sederhana tidak berdinding, hanya beratap seng  terlihat tak terawat (pos I).

Kami istirahat sejenak disini  dan mengambil air untuk memenuhi botol-botol persedian air yang kami bawa selama pendakian ini.Setelah istirahat dirasa cukup kami lanjutkan perjalanan. Terus berjalan  menyusuri jalan setapak yang naik turun. Setelah melewati jembatan kayu yang ada pohon besar di sisi kiri ujung jembatan, ada percabangan jalan, lurus terus ke arah Sumur Penganten, belok kiri kearah puncak. Kami belok kiri  menuju puncak. Jalan/jalur memasuki hutan lebat dan  tertutup semak belukar. Kami berjalan terkadang harus merunduk karena ada pohon besar tumbang menghalangi jalur.Jalur mendatar.Kami menikmati jalur dengan melihat lebatnya hutan dan tinggi besar pohon-pohon disekitar jalur sambil terus berjalan.tidak  terasa gerimis sudah reda.Sampailah kami di pos 2.Pos 2 ini berupa bangunan sederhana beratap seng.Kami istirahat sebentar lalu melanjutkan lagi perjalanan.Jalur mulai menanjak dan menyiris punggungan bukit.Kami sempat kehilangan jalur karena jalurnya tidak jelas dan tertutup semak-semak. Kami hanya mengikuti  bekas tapak orang lewat. Kami sempat berhenti karena bekas tapak mulai tidak jelas dan medan di depan sepertinya bukan jalan menuju puncak karena menurun dan sangat lebat sekali. Aku minta ke yang lain untuk mengingat kembali jalur yang sudah kami lewati barang kali kami melewati jalur percabangan sambil mencari jalur atau tapak bekas orang lewat. Tidak lama pakDodi menemukan jalur yang lebih jelas dan bekas dilewati orang. Sepertinya sebelum kami ada rombongan lain yang juga melewati jalur ini.  Kami kembali kejalur menuju puncak.Lupa berapa tanjakan dan turunan telah kami lewati, kami fokus terus berjalan melewati jalur yang tertutup rimbunnya semak belukar dan pohon perdu sambil sesekali istirahan sebentar untuk menstabilkan pernafasan. Jam ditangan menunjukan waktu hampir pukul 13.00, kami berniat istirahat untuk sholat dhuhur dan asar. Jalur menanjak sehingga tidak nyaman untuk istirahat dan sholat maka kami lanjutkan perjalanan, Alhamdulillah sampailah kami diatas punggungan bukit dan jalur datar agak lega cukup buat sholat.Maka kami istirahat dan sholat disini.Selesai sholat dan makan roti perbekalan, kami lanjutkan perjalanan.Kami terus berjalan melewati menanjak menyusuri punggungan maupun turunan menyisiri lembah.Tidak sempat kami menghitung berapa kali kami melewati punggungan dan menyisir lembah dan berapa pos yang sudah kami lewati karena setelah pos II sepertinya kami tidak melewati bangunan atau tanda yang menunjukkan pos. Banyaknya tanjakan dan turunan serta jalur yang lebat, menguras tenaga dan menguji nyali.Ada sebagian jalur yang putus karena longsor.Kami harus menyisir jalur longsor sambil berpegangan akar dan ranting pepohonan serta kami gunakan tali webbing untuk membantu pegangan.Kami terus berjalan.Tas dipunggung mulai terasa berat. Kami ngobrol sambil berjalan dan berdiskusi sampai kapan kami akan menyusuri jalur ini. Kami tidak tahu masih berapa lama akan sampai ke puncak. Hutan lebat dan pepohonan masih terlihat tinggi-tinggi, ini menandakan masih jauh dari puncak gunung.Biasanya kalau sudah mendekati puncak vegetasi tanamannya sudah mulai berbeda.kebanyakan pohon biasanya tidak terlalu tinggi dan didominasi pohon perdu dan semak belukar, dan jalurnya pun sudah mulai berbatu dan kecenderungannya jalur terus menanjak.Kondisi semua dalam keadaan kelelahan, ada suara orang terdengar dari arah atas.Ternyata ada rombongan lain yang turun. Kami tanyakan kepada mereka masih jauhkah perjalanan dan seberapa lama menuju puncak.Mereka bilang masih jauh, masih harus melewati dua tanjakan baru bisa sampai di kaki puncak.Butuh 5jam lagi untuk sampai di kaki puncak dan 2-3 jam untuk sampai puncak. Mendengar itu semakin berat rasanya tas ini.Setelah rombongan itu lewat.Akhirnya kami sepakati akan terus berjalan, sampai sekitar pukul 17.00 atau sebelum gelap datang sudah menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda yang aman untuk bermalam. Sambil mempertahankansemangat  dan membulatkan tekat kami terus berjalan. Alhamdulillah dapat juga tempat yang diinginkan, jam ditangan menunujukkan pukul 17.05.setelah memeriksa keadaan sekitar dan memastikan tempat aman dari terpaan angin dan aliran air hujan, kami mulai bongkar tas. Kami keluarkan tenda dari dalam tas  dan mendirikannya serta memasang flyshootnya juga.Kami bawa dua tenda dan tiga flyshoot.Tenda sudah berdiri dan flyshoot sudah terpasang, sebagian mulai merapikan perlengkapan di dalam tenda dan mengganti pakaian yg basah dan sebagian mempersiapkan alat masak.Suasana mulai remang-remang. Ditengah asik masak ada rombongan lain lagi yang melintas yang akan menuju puncak. Mereka rombongan dari Bumiayu Brebes.Kepada rombongan ini juga kami tanyakan seberapa jauh dan lama bila ingin sampai puncak.Kata mereka satu kali tanjakan lagi untuk sampai di kaki puncak, sekitar satu jam.Ini menambah semangat kami.Setelah rombongan itu lewat, aktifitas memasak kami lanjutkan.

Sebagai makanan pembuka kami masak mie instand dan minumannya susu jahe, dilanjutkan memasak nasi sebagi menu utama yang akan kami tambah dengan orek tempe kentang, dendeng, dan sambal goreng. Suasana sekitar makin gelap dan dinginnya angin gunung yang berhembus mulai terasa menembus baju yang sudah kami ganti dengan yang kering. Disini nasi hangat di taburi orek tempe kentang dan sambal goreng serta dipadu dengan dendeng terasa nikmat sekalidilidah. Kami asik menikmati menu makan malam ini dengan lahap.Sambil sesekali mensrutup minuman susu jahe hangat melengkapi kenikmatan menu makan malam ini. Usai makan malam kami beresin perlengkapan masak lalu dilanjutkan sholat magrib dan isa berjamaah di dalam tenda.Kami tidak langsung tidur.Ada pembicaraan serius terkait dengan rencana besok dan bincang-bincang tentang keadaan sekolah.

Bincang-bincang sepanjang jalan

Bincang-bincang dalam  perjalan itu suatu hal yang sah dan wajar dilakukan. Tapi berbeda kali ini.Pembicaraan tidak hanya seputar pendakian gunung-gunung, tetapi juga membicarakan kondisi sekolah dengan semangat membangun peradabannya. Menurut aku ini yang menarik yang mungkin perlu aku tuliskan juga, karena kalau membicarakan pedakian gunung terutama yang sekarang ini pendakian ke gunung slamet aku rasa sudah cukup ketika kami memutuskan untuk berangkat, tetapi akan aku tuliskan juga pembicaraan semangat menggapai tujuan yang hampir mengubah arah perjalanan pendakian.

Peserta rombongan pendakian ke slamet kali ini sangat berbeda dengan peserta pendakian ke gunung-gunung sebelumnya.Aku dan p sopyan sudah beberapa kali bareng dalam pendakian gunung-gunung, hanya menambah peran sebagai bumbu penghangat dan penyemangat pembicaraan, tetapi ada p dodi yang punya latar belakang ilmu manajemen dan  lama menjadi mahasiswa dengan segudang pengalaman keorganisasian, ada p alif dengan semangat wawasan sejarah peradaban masa lalu, dan P Tri orang tua siswa yang ahli di bidang konsultan lembaga professional makin seru membicarakan tentang sekolah, yang masih membawa semangat raker sekolah yang sudah berakhir sebelum kami berangkat pendakian ini. Menurut p dodi, sekolah harus punya system yang bisa dikuti oleh semua orang ketika orang itu masuk dalam system sekolah dan sytem tidak menghalangi orang yang ada di dalam untuk mengembangkan dan memperluas serta membesarkan sekolah.Sehingga siapapun orangnya yang ada di system sekolah, kualitas sekolah masih bisa terjaga dan justru bisa semakin berkembang luas dan membesar kearah yang lebih bagus.P alif punya pendapat klo sekolah alam itu sekolah kehidupan sehingga pendidikan yang diterapkannya juga harus bisa berkontribusi terhadap perkembangan dunia islam, ikut aktif terlibat dalam menyongsong kebangkitan umat islam. Untuk itu harus banyak belajar dari pengalaman umatislam terdahulu yang berhasil memdidik generasi sehingga umat islam mencapai masa kejayaanya. P tri manambahkan, visi misi sekolah harus bisa dipahami oleh seluruh orang yang telibat disekolah, sehingga mau bersama-sama bergerak menuju tujuan yang sama. Setiap keputusan, kebijakan yang diambil harus terdokumentasi dengan baik sehingga ketika ada yang menanyakan, ada riwayat yang bisa disampaikan kenapa keputusan, kebijakan itu diambil, apa saja yang melatarbelakanginya, mungkin ga keputusan, kebijakan itu berubah.

Itu diantaranya perbincangan-perbincangan kami di mobil sambil menelusuri jalan dari Jakarta menuju Tegal.

Semangat mengggapai tujuan

Seperti yang sudah dituliskan diatas.Perbincangan juga dilakukan di dalam tenda ketika bermalam sebagai pengantar tidur.Masih seputar sekolah dan pendakian.Dari banyaknya perbincangan, sepertinya kami mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan perjalanan ke puncak.Dalam kondisi kelelahan, bekalyang dirasa kurang, jarak tempuh dan waktu jelajah yang tidak jelas, mengurangi semangat kami.Sambil makan roti dan snack perbincangan dilanjutkan.Masing-masing berpendapat. Ada yang ingin tetap melanjutkan pendakian, ada yang ingin mensudahi, ada yangmempersilahkan kalau ada yang melanjutkan pendakian dan sebagian menunggu  ditenda saja.Banyak hal yang menjadi pertimbangan diantaranya sedikitnya informasi terkait berapa jauh dan lama untuk menuju puncak, bagaimana jalurnya.Persediaan perbekalan (air dan makanan) kalau harus sampai puncak danresiko kemaleman dalam perjalanan turun.Pakaian ganti yang kering tinggal sepasang, kondisi cuaca yang terkadang hujan atau gerimis.Semua pertimbangan mengarah pada disudahinya pendakian. Tetapi ketika akan menyepakati akan disudahi pendakian ini ada perasaan tidak nyaman kalau harus turun pulang sebelum sampai di puncak. Sehingga muncul pertanyaan apakah akan  dosa atau menjadi suatu aib bila pendakian tidak sampai puncak….?? Dengan berbagai pertimbangan tadi dan mengukur kemampuan pribadi masing-masing, perbincangan dalam tenda mengerucut akan disudahi saja pendakian ini, besok pagi selesai sarapan kami akanlangsung turun untuk kembali pulang. Kondisi diluar tenda semakin gelap gulita, sepi senyap, hanya terdengar suara angin mendesir menerpa daun dan ranting pepohonan.Kami siapkan sleepingbag, mengatur posisi tidur.Tenda besar untuk tidur, tenda kecil untuk menyimpan barang perlengkapan dan perbekalan.

Malam semakin larut, masing-masing kami berdoa mau tidur dalam hati.Malam ini kami tidur dalam buaian dinginnya malam dan damainya hutan rimba gunung Slamet.

Kriiing…..kriiing….kriing….sepertinya alarm hp berbunyi.Dari kami tidak ada yang bergerak.Yang merasa hpnya berbunyi juga tidak bangun, waktu masih pukul 03.00 pagi.Kami masih malas untuk bangun, sampai-sampai bunyi alarm hp tersebut berhenti sendiri.

Kriiing….kriiing….kriiing…alarm hp berbunyi lagi. “Sudah jam 5” kata teman yang hpnya berbunyi.Kami satu persatu mulai bergerak untuk bangun.Dengan bertayamum kami mempersiapkan diri untuk sholat subuh.P Alif memimpim sholat subuh berjamaah kami, masih didalam tenda.Selesai sholat kami lanjutkan berdzikir dan membaca almatsurat.

Pelan-pelan kami buka pintu tenda.Hihihi…hawa dingin berhembus masuk.“Masak apa pagi ini” kata p alif.“Minuman aja dulu” kata pak Tri. “Iya..iya” sahut yang lain. Sambil p alif mencari minuman jahe dan suhu, aku siapin kompor. P sopyan yang merangkai, p dodi menuangkan air ke nesting. Hari masih gelap.Sambil menunggu air panas, aku siapkan satu lagi kompor untuk memasak nasi.“Santai aja, wong kita mau pulang aja kok buru-buru” kataku bercanda.“Mau turun jam berapa kita” sahut p sopyan.“Jam 8 juga ga apa-apa” kataku.P tri mendengarkan dari dalam tenda sambil merapikan barang-barangnya.Minuman dan nasi sudah selesai dimasak. Nikmatnya jahe susu dipagi ini. Kami ambil nasi yang sudah matang di taruh di nesting yang kosong. Ditambah dengan dendeng dan orek tempe kentang serta sambal goreng, nasi yang masih agak keras terasa enak juga.Acara makan selesai.Kami lanjutkan dengan mengemasi barang-barang yang ada di dalam tenda, sambil bercanda membicarakan kembali pembahasan semalam.P alif dan p dodi keluar tenda untuk menghirup dinginnya hawa pagi.Ternyata p dodi dan p alif mulai membereskan barang perbekalan. Disodorkannya botol-botol berisi air pesediaanke depan aku sambil dihitung. Ternyata masih banyak juga. Aku minta p alif untuk mengumpulkan makanan (roti,mie, minuman saset, orek tempe kentang) yang masih tersisa. Ternyata masih banyak juga.Aku perkirakan itu semua masih cukup untuk bekal melanjutkan pendakian menuju puncak dan sampai turun kembali ke desa terdekat.Aku tawarkan ke semua, berani tidak kita melanjukan pendakian dengan bekal yang sempat kami ragukan kecukupannya semalam ketika bincang-bincang.Semua memperhatikan dan mencoba memperkirakan air dan bekal makanan persediaan.Dengan semangat menuju puncak untuk menggapai tujuan akhirnya kami sepakati akan melanjutkan pendakian sampai waktu menunjukkan sekitar pukul 12.00 siang. Sampai batas waktu yang sudah ditentukan, sampai atau tidak kami ke puncak, maka kami harus kembali untuk turun.Maka semua kegiatan dipercepat. Bongkar tenda dan packing barang  segera kami lakukan. Semua selesai.Kami berkumpul dan berdoa semoga pendakian ini dimudahkan oleh Allah SWT.Dengan semangat menuju puncak kami keluarkan bendera areng untuk difoto bersama.Ini kesempatan pertama kali bendera Areng keluar dari sarangnya semenjak p alif bikin dan masuk packingan ketika mulai berangkat dari sekolah.

Mendaki menuju Puncak

Semua sudah siap. Jam ditangan menunjukan pukul 08.00. kami dengan mantap menapakkan kaki dalam melangkah, mendaki menuju puncak. Kami masih menyusuri hutan lebat, jalur terus menanjak.Gerimis mulai datang.Angin bertiup kencang.Kami terus mendaki. Satu jam kemudian kami ketemu tenda. Sepertinya rombongan yang semalam melewati kami bermalam disini.Terlihat sepi.Kami lanjutkan pendakian. Tidak terlalu  lama kami ketemu lagi dengan 2 tenda berdiri. Ada orang didalam tenda. Kami ucapkan salam. Terdengar balasan salam dari dalam tenda berbarengan dengan terbukanya pintu tenda. Ternyata 3 perempuan. Kami tanyakan kepada mereka kemana anggota rombongan yang lain. Dijawab sedang menuju puncak.Sudah seberapa lama, setengah jam yang lalu kata mereka.Kami tanyakan lagi masih jauhkah menuju puncak. Mereka jawab sekitar satu jam lagi. Kami turunkan tas carier dari punggun. Rasanya ringan sekali badan ini.Kami berniat menaruh tas-tas kami disini.Kami ambil bekal.Masing-masing bawa satu botol air minum dan 2 bungkus roti untuk semua.Hujan semakin deras.Kami keluarkan raincoat untuk pelindung badan dan flashoot untuk menutupi tas-tas kami.Kami pamitan ke penghuni tenda dan menitipkan tas-tas kami.Jalur menuju puncak ada dibelakang tenda mereka.Dengan bawaan yang lebih ringan penjalanan menuju puncak menjadi lebih semangat dan mempercepat langkah kami.Jalur masih menanjak dan melewati rimbunnya semak belukar.Semakin keatas hembusan angin semakin kencang.15 menit berikutnya kami bertemu rombongan teman orang yang ada di tenda tadi sedang turun.Kami tanyakan ke mereka, apakah sudah dari puncak.Mereka jawab tidak bisa sampai puncak pas karena diatas sedang badai.Mereka hanya sampai di batas akhir vegetasi.Kami minggir, memberi ruang ke mereka untuk lewat.Kami lanjutkan pendakian kami, untuk menyaksikan sendiri kondisi di puncak.Kami percepat langkah.Supaya segera sampai di atas dan segera turun karena sepertinya hujan dan angin bertambah kencang.Tanda-tanda puncak semakin jelas.Kami melewati banyak pohon aidelweis. Pas pukul 09.30 waktu di jam tangan, kami sampai di puncak pelawangan. Disini  bukan puncak pas, hanya batas akhir vegetasi. Untuk menuju puncak pas masih harus menanjak melewati jalur berbatu. Waktu tempuh kurang lebih satu jam lagi (menurut infomasi rombongan tadi). Disini hujan semakin lebat.Angin semakin kencang. Jarak pandang terbatas karena tertutup kabut. Kami tidak bisa jauh melihat ke puncak pas.

Alhamdulillah sampai juga kami disini.Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT.Puas dan lega rasanya.“ Allah Akbar” teriak p Alif dan disambut takbir juga dari yang lain.

Kami keluarkan bendera Areng untuk foto bersama.Hawa dingin menembus baju kami dan rasanya seperti sampai ketulang belulang.Angin bertiup kencang membawa kabut melewati ruang-ruang diantara kami.Seluruh puncak tertutup kabut tebal.

Di puncak pelawangan ini kami hanya sebentar.Waktu menunjukkan pukul 09.30. Kami masih punya waktu untuk ke puncak. Tetapi sangat-sangat beresiko kalau pedakian diteruskan ke puncak pas.Dalam kondisi badai seperti ini tidak direkomendasikan untuk melakukan pendakian sampai puncak pas.Akhirnya kami sepakati pendakian cukup sampai disini. Kami balik arah kembali untuk turun  pulang. Selamat tinggal puncak slamet, doakan kami supaya bisa kembali kesini untuk menjejakkan kaki kami di puncak tertinggi di jawa tengah.

Turun untuk kembali pulang

Perjalanan turun kami usahakan lebih cepat, selain karena hujan deras dan angin sangat kencang, kami harus bersegera mengambil tas-tas yang kami tinggal dibawah dan berusaha jangan  kemalemansampai di desa. 15 menit kemudian kami sudah sampai di tempat meninggalkan tas. Kamisegera mengangkat tas kami dan melan
jutkan turun kebawah. Hujan belum juga reda. Kami melewati jalur yang sama menuju puncak sehingga lebih jelas dan menyakinkan untuk terus melangkah. Berbeda dengan menuju puncak yang banyak tanjakan, perjalan pulang menjadi sebalikkya, didominasi turunan.Tetapi tingkat kesulitanya tidak kalah menantang.Jalur sempit, kanan kiri semak belukar berduri dan licin terkena air hujan, serta beberapa kali melewati pohon tumbang menjadi tantangan tersendiri ketika harus turun. Satu jam berlalu, kami istirahat sebentar untukmengatur nafas dan sekedar minum. Diperjalanan kami melewati dan dilewati rombongan lain, yang kemaren atau tadi ketemu waktu perjalan ke puncak. Sehingga menambah semangat dan merasa tidak sendiri. Sekitar jam 12.00 kita berhenti untuk makan. Tas kami bongkar, keluarkan semua yang bisa dimakan. Masih ada mie, roti, jahe susu saset dan botol air. Kami masak mie dan jahe susu. Ketika asik makan rombongan lain lewat mau turun. Kami mencoba berbaik hati.Kami ajak mereka untuk makan, tetapi mereka memilih melanjutkan perjalanan.Ya sudah kami habiskan makanan yang kami masak tadi. Kami sisakan sebungkus roti manis dan 5 botol air minum untuk bekal turun. Perkiraan belum sampai jam lima kami sudah sampai dibawah. Maka kami sepakat untuk sholat dhuhur dan asar diakhirkan kami lakukan dibawah.Cukup kenyang makan dan cukup istirahat maka kami lanjutkan kembali perjalan turun ini.Semakin cepat saja langkah kami.Sejam berikutnya kami melewati rombongan yang mendahului kami tadi.Mereka sedang istirahat.Kami terus berjalan.Sampailah kami di pos II.Ada keinginan untuk istirahat tetapi karena belum sholat dan berusaha segera sampai bawah maka kami urungkan keinginan itu.Kami berusaha mempercepat langkah hingga akhirnya kami keluar dari lebatnya hutan belantara.Alhamdulillahirobbil alamiin…

Kami  sampaipertigaan jalan ke sumur penganten dan kedesa melewati jembatan kayu yang ada pohon besar disampingnya. Disini kami sempatkan melihat kebelakang, ke puncak gunung Slamet.Puncak Slamet masih tetap diselimuti kabut tebal.   Entah kenapa tas ini kembali terasa lebih berat. Sehingga membuat kami berjalan terasa lamban dan pelan, mengikuti ayunan langkah kaki.Kami ingin bersegara sampai tetapi berat rasanya kaki ini melangkah untuk lebih cepat, apalagi kalau melewati tanjakan atau turunan.Seolah-olah sepatu ini lengket dengan tanah.Tetapi kami berusaha untuk tetap melangkah.P alif dan p dodi berjalan lebih cepat meninggalkan kami bertiga.Ternyata mobil pickup sudah menunggu di ujung jalan desa.Waktu menunjukan pukul 16.00.kami bersegera naik mobil pickup untuk dibawa turun kembali ke desa. Mobil berjalan pelan karena jalanan berbatu dan juga tidak rata.Kami berhenti sebentar, mampir dirumah Bu Kaji. Menyampaikan ucapan terimakasih Alhamdulillah kami kembali dengan selamat dan sekaligus berpamitan karena akan pulang ke Jakarta. 

Pulang kembali ke Jakarta

Selepas dari rumah Bu Kaji, mobil pickup melanjutkan perjalan membawa kami ke kantor teman aku. Jam 17.00 kami sudah sampai. Menurunkan tas dan segera sholat. Ditempat teman aku ini kami menginap semalam untuk memulihkan stamina.Tidur semalam membuat kami pulih dari rasa letih dan lelah.Waktu subuh datang, kami bangun, wudhu dan sholat subuh berjamaah.Kami pamitan ke teman yang disini.Kami siap kembali ke Jakarta.Kami sampai kembali di sekolah jam 13.00. Alhamdulillah kami sampai di sekolah dengan selamat.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: