Belajar Bersama Teater Kanvaz. Pendidikan Memunculkan Karakter

Pemeran Teater Kanvas
“Hidup tanpa teater, ibarat gunung tanpa pepohonan”

Itulah yang disampaikan oleh Zak Sorga, sutradara sekaligus penulis naskah dari pentas Teater Kanvas dengan judul “Penghuni Kapal Selam”. Sebuah kalimat dengan pemaknaan lebih di setiap katanya. Mengisyaratkan bahwa sesungguhnya dalam kehidupan ini tidak hanya membutuhkan hal-hal yang bersifat statis seperti batu, tanah yang membentuk gunung tersebut, namun juga membutuhkan hal-hal yang bersifat kedinamisan seperti pepohonan yang akhirnya mampu meng”hidup”kan gunung tersebut. Karena pada dasarnya, setiap pohon itu akan mempunyai keunikan tersendiri dan karakternya tersendiri dalam membentuk gunung tersebut.

Sekolah Alam Indonesia, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 2014, melakukan kunjungan pembelajaran ke Gedung Kesenian Jakarta. Perjalanan yang melibatkan siswa siswi kelas 7 dan 8 Sekolah Lanjutan ini, diharapkan mampu mendapatkan banyak makna dari sajian pentas seni tersebut. Di satu sisi karena konsep pembelajaran seni di Sekolah Alam Indonesia level Sekolah Lanjutan (Setaraf SMP) adalah penjurusan layaknya Institut Kesenian Jakarta (IKJ), maka salah satu penjurusan berupa teater secara khusus ingin belajar secara langsung tentang seni teater dan aplikasinya, atau pada tahap pembelajaran apresiasi seni. Konsep ini diterapkan karena kita menyadari bahwa untuk umur setingkat SL, maka karakter-karakter dan potensi itu sudah mulai muncul dan melekat pada diri mereka. Sehingga sekolah alam indonesia memfasilitasi para siswa untuk mengupgrade secara khusus peminatan mereka agar bisa berkembang secara optimal dengan potensi mereka.

Teater kanvas merupakan salah satu objek pembelajaran yang bisa didapatkan untuk peminatan teater. Walau secara khusus anak-anak teater SAI yang akan banyak mendapat manfaat, perjalanan menuju GKJ ini tetap kita peruntukkan untuk semua. Karena makna tentang apresiasi seni inilah yang ingin kita sentuhkan kepada seluruh siswa siswi Sekolah Alam Indonesia. Makna tentang penghargaan sebuah seni terhadap masyarakat, makna tentang pesan yang tersampaikan lewat seni, dan tentang banyak hal lainnya yang menjadi latar belakang mengapa seni itu muncul di dunia ini.

Outing pembelajaran ini dilakukan sejak pulang sekolah sampai pada selesainya acara teater kanvas pada pukul 22.00. Walaupun siswa-siswi sampai di sekolah pada pukul 23.00, tapi tetap banyak hal yang mereka dapatkan selama di sana. Bahkan, kalimat-kalimat yang terucap pada saat teater itu, diulang-ulang kembali oleh para siswa ketika di dalam bis. Semua itu hasil dari pengamatan mereka selama berjalannya pertunjukkan. Dan sebuah kesempatan besar lagi didapat oleh sebagian anak-anak, khususnya yang mendapat peminatan teater. Dimana mereka bisa bertemu langsung dengan pemeran-pemeran teater kanvas itu di belakang layar. mereka melihat proses make up dan segala persiapan yang dibutuhkan untuk mengadakan teater. Bahkan mereka masih bisa sempat untuk berfoto bersama para pemeran teater.

Satu aspek yang didapatkan oleh anak-anak selama pentas teater ini adalah terkait dengan adab-adab yang dilakukan di ruang publik. Pada awalnya panitia pelaksana sempat bertanya kepada guru Sekolah Alam Indonesia terkait siswa-siswi yang dihadirkan di acara. Karena sebetulnya objek teater ini adalah para mahasiswa dan masyarakat umum, belum untuk objek sekelas SMP. Di samping faktor materi atau muatan teater yang cukup berat, faktor-faktor terkait kebersihan dan kenyamanan pengunjung pun menjadi sorotan. Namun alhamdulillah, anak-anak mendapatkan pembelajaran secara langsung tentang aspek-aspek tersebut. Mereka mencoba mencerna dengan detil segala kosakata yang terucap oleh para pemeran, karena berharap setiap pesan itu bisa mereka mengerti. Sedangkan untuk aspek ketertiban, kenyamanan dan kebersihan, siswa siswi benar-benar mendapatkan sarana yang tepat dalam pembelajaran mereka. aturan-aturan tentang tidak adanya makanan minuman yang dibawa masuk, tentang Handphone yang tidak boleh dinyalakan, atau bahkan suara-suara bising yang tercipta, mereka lakukan dan terapkan semua aturannya. Justru dari mulut-mulut mereka terlontar kata-kata,

“Pak, kok tadi masih banyak yang menyalakan Handphone di ruangan? padahal cahayanya itu terang banget, mengganggu. Kan sudah ada aturannya juga”

“Itu masa masih ada yang memfoto-foto di dalam ruangan pak. pake suara juga lagi kameranya. kasian orang-orang di sampingnya itu yang terganggu”

Buat kami para guru Sekolah Alam Indonesia, sensitivitas anak-anak terhadap lingkungan sekitar, terbentuk dengan cepat. bahkan ada beberapa anak yang langsung berani menegur penonton di sekitarnya yang tidak menjalankan aturan. Dan sekali lagi, kami banyak belajar dari keberanian anak-anak untuk mengingatkan orang lain.

Teater itu adalah seni. Dan seni itu membutuhkan cinta untuk memunculkan karakternya. Begitu juga dengan mendidik. Mendidik itu bukanlah sebuah pekerjaan, namun dia adalah sebuah seni. Maka dengan cinta lah proses mendidik itu akan menemukan keberhasilannya. keberhasilan untuk memunculkan karakter karakter unik seorang anak, keberhasilan untuk menumbuhkan karakter-karakter terbaik seorang anak dan seorang pemimpin di masa depan

Terima kasih untuk panitia Teater Kanvas yang telah mengizinkan kami untuk mendapatkan pembelajaran terbaik untuk karakter anak-anak kami.
Terima kasih kepada para orangtua yang telah rela menjemput dan menunggu anak-anaknya di sekolah sampai pukul 23.00 malam
Dan terima kasih kepada siswa-siswi kelas 7 dan 8 Sekolah Alam Indonesia yang telah menjadi guru bagi penonton di sekitar, dan bagi kami semua.

Semangatlah para calon pemimpin masa depan dengan karakter karakter unik kalian.

ifsa sept2014_isi_hires

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: