Rumah Pohon

Ingatan di masa kecil. Bermain bersama teman-teman. Membuat rumah persembunyian. Di rumah pohon jambu yang bercabang banyak. Daun-daunnya rimbun. Rantingnya menutupi jejak.

Rumah pohon yang dibuat dengan pijakan sederhana. Sekedar tempat bercengkrama membahas masalah anak-anak. Mencari jalan baru berangkat ke sekolah esok harinya. Membicarakan jebakan burung gereja yang bersarang di dahan tertinggi. Mengatur strategi bermain bola menaklukan lawan. Termasuk rencana lainnya yang lebih menantang yang baru saja terpikirkan.

Rumah pohon itu seperti rumah kedua. Menawarkan waktu berdiskusi kelas anak-anak kampung yang menyenangkan. Bersenda gurau. Sesekali bertengkar, sesekali ribut sendiri. Namun berulangkali menjadi saksi pembelajaran berharga. Sangat berharga bahkan.

Rumah pohon itu menjadi saksi. Belajar berbagi setelah bertengkar. Belajar berempati setelah hidung berdarah. Belajar mengenal manusia lain bahwa sama bernilainya dihadapan Allah.

Kini rumah pohon itu tinggal cerita. Tumbang karena usia. Tapi ingatan di masa kecil dulu telah memberi bekas yang mendalam. Indah hingga pada waktunya.

@kang yudha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: