Outing Karang Sembung

Setiap kita memiliki kecenderungan untuk memilih zona nyaman. Di sana kita tak perlu mempertaruhkan banyak hal. Pastinya rasa nyaman yang sudah melekat. Tanpa harus merasakan kesulitan-kesulitan atau kegagalan yang harus dihadapi. Bila kita tak mau keluar dari zona itu maka kita tak akan berkembang menjadi pribadi yg lebih baik. Terlebih jika zona nyaman yang telah ada itu adalah lingkungan yang buruk yang membuat kehidupan semakin memburuk.

Sebagai manusia yang ingin memperbaiki kualitas kehidupan rasanya perlu keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bisa jadi akan berat bila kebiasaan itu baru kita lakukan di masa dewasa.

Dari dasar di atas maka perlu memberikan pendidikan pada anak untuk berani mencoba hal-hal baru. Mencoba di luar kebiasaan mereka sehari-hari yang hanya berputar pada rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Terlebih bila mereka terbiasa mendapatkan fasilitas-fasilitas bak raja yang segalanya serba mudah diperoleh. Salah satunya seperti yg dilakukan oleh Sekolah Alam Indonesia Cipedak. Menyelengggarakan pembelajaran di luar kelas dengan istilah outing. Pembelajaran dengan berkunjung ke daerah-daerah.

Perjalanan dimulai dengan berkumpulnya anak-anak di SPBE dekat sekolah. Dari sana anak-anak memulai perjalananya dengan bus TNI tanpa AC. Kapasitas kursi tak seimbang dengan jumlah anak dan perbekalan mereka yaitu tas makanan. Hal ini tentu hal biasa untuk ukuran orang dewasa dan terbiasa dengan berdesakan dengan angkutan kota di Jakarta. Lain ceritanya dengan anak-anak kelas 4 SD. Terlebih mereka dari keluarga ekonomi menengah ke atas. Dari sinilah anak-anak mulai dilatih untuk hidup sederhana.

Perjalanan selanjutnya melalui kereta api. Mereka bersama-sama melakukan perjalanan ke Kebumen dengan menggunakan kereta ekonomi AC dari stasiun Senen. Di kereta mereka sangat menikmati perjalanan ini. Terbukti dari bersenda gurau yang tidak ada habis-habisnya. Satu sama lain tertawa, berbagi cerita bersama. Bermain-main rubik dan bermain apa saja.

Di tengah-tengah menikmati perjalanan, tiba-tiba AC mati. AC yang harusnya dapat mendinginkan ruangan setelah perjalanan tiba-tiba mati. Hal ini yang membuat mereka panik karena udara tiba-tiba pengap dan sangat gerah. Di sini pula mereka belajar merasakan kepayahan dan kepanasan yang mungkin jarang mereka rasakan. Alhamdulillah setelah beberapa saat AC kembali menyala dan anak-anak pun kembali merasa nyaman.
Sesampainya mereka di stasiun Gombong, perjalanan dilanjutkan dengan bus serupa kopaja di daerah Jakarta. Perjalanan kurang lebih 15 menit. Sesampainya di sana sekitar jam setengah tujuh malam. Ternyata anak-anak belum bisa langsung rehat karena penjaga rumah singgah belum membukakan pintu rumah. Di situlah latihan kesabaran kembali teruji. Bersabar menunggu sambil duduk di tanah. Alhamdulillah setelah beberapa menit kemudian sang penjaga telah sampai lokasi.

Latihan di kehidupan di dunia nyata belumlah selesai. Karena ternyata dengan kapasita anak dan guru yg mencapai 50 orang lebih tidak diimbangi dengan kapasitas kamarmandi. Rumah singgah hanya memiliki dua kamar mandi. Pastinya butuh kesabaran dalam menyikapinya dan mereka harus mengantri panjang untuk ke kamar kecil.

Setelah itu mereka beres-beres dan meletakkan barang-barang mereka pada tempatnya. Ternyata mereka tidak langsung bisa tidur untuk istirahat karena ruangan tempat istirahat mereka panas. Ruangan tertutup dan didukung dengan cuaca yang panas. Belajar beradaptasi dengan lingkungan.

Keesokan harinya selama tiga hari, mereka melakukan perjalanan ke tempat-tempat pembelajaran yang berhubungan dengan bebatuan karena memang tema outing kali ini adalah batuan. Perjalanan ke Sungai Muncar, Lo Kulo dan Goa Petruk. Perjalanan diakhiri pada hari Kamis malam dengan menggunakan kereta api ekonomi AC gaya baru malam, Gombong – Jakarta jam tujuh malam.

Di perjalanan malam ini, mereka tidur lelap walau dengan posisi kurang nyaman karena mereka tidur dengan posisi duduk.

Selanjutnya rombongan sampai di stasiun Senen dan telah ditunggu oleh kendaraan yang sama seperti keberangkatan lalu. Bedanya, perjalanan di malam hari. Lebih tenang, terasa lebih cepat, lebih ringan dibanding perjalanan siang hari.

Perjalanan ini berakhir di sekolah jam dua malam dan disambut oleh para wali murid dengan wajah ceria dan senyum bahagia. Kembali bersua dengan anak tercinta.

Demikianlah perjalanan yg penuh tantangan bagi mereka. Meskipun semua kesulitan yang dilalui bukanlah kesengajaan namun justru hal-hal tak terduga di lapangan seperti yang diceritakan menjadi latihan bagi mereka untuk menjalani kehidupan nyata mereka kelak. Pelajaran penting dari perjalanan ini buat mereka adalah tidak setiap yang mereka inginkan akan terwujud.

@pak amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: