Rumah Keduaku “SEKOLAH ALAM INDONESIA”

Awal aku gabung dengan sekolah alam diperkenalkan dari bu Chache di tahun 1998. Awalnya hanya diminta untuk melihat dulu. Tapi hari itu aku sudah diminta untuk membawa perlengkapan untuk menginap beberapa malam menemani guru yang akan mengajar di Sekolah Alam.

Perjalanan menuju Sekolah Alam aku estafet naik kendaraan umum Kopaja P20, mikrolet M20, lalu naik ojek menuju lokasi yang dinamakan Sekolah Alam. Saat itu sama sekali tidak pernah terbayang dalam benakku bahwa aku akan bertemu dengan sekolah tanpa gedung.

Sesampainya di rumah kontran ibu guru kemudian dilanjutkan dengan berjalan menuju sekolah. Ternyata yang aku temui jalan setapak. Becek. Ada kebun yang ditanami tomat dan cabai. Ada dua buah bangunan kayu. Dan ternyata, itu adalah bangunan yang akan digunakan untuk belajar anak-anak. Ada pula rumah dari kayu Kalimantan yang menjadi kantor administrasi dan perpustakaan sekolah kelak. Lokasi awal itu terletak di jalan Damai No. 54, Ciganjur, yang saat ini sudah menjadi lokasi Sekolah Citra Alam.
Sungguh pemandangan yang diluar dugaan. Tapi akhirnya aku menyetujui untuk bergabung dengan Sekolah Alam kontrak satu bulan. Pekerjaanku pertama hanya menyampul buku-buku bacaan anak dan buku-buku resouces guru. Aku percayai bahwa buku-buku ini adalah sumber utama gerbangnya ilmu Sekolah Alam.
Pekerjaan satu bulan pertamapun selesai. Aku putuskan untuk menelpon bu Yusri (Istri penggagas Sekolah Alam). ”Bu. Apakah yang harus saya lakukan lagi? Karena semua buku sudah selesai saya sampul?” Kemudian Bu Yusri bertanya, ”Apakah Bu Asih masih mau gabung dengan Sekolah Alam?” Kemudian saya jawab, ”Mau Bu, bila masih dibutuhkan.”

Keputusanku ternyata mengambil penawaran dari Bu Yusri. Dan mulailah kembali melanjutkan bekerja di Sekolah alam hingga kini.

Akhirnya aku benar-benar tenggelam bersama Sekolah Alam. Tenggelam mengikuti semua kegiatan di Sekolah Alam. Ikut menyiapkan pembelajaran walau pada saat itu belum ada siswanya. Aku diperkenalkan dengan Bu Septriana, Pak Iman Kurnia, Ibu Loula (pembimbing Sekolah Alam), Pak Hendi (yang menangani kebun sekolah), dan Pa Syafir yang bertugas untuk mengurus landskap sekolah.

Bersama mereka aku banyak belajar. Belajar mencari siswa. Awalan aku mendatangi warga sekitar untuk menawarkan pendidikan gratis di SA. Tetapi ternyata respon masyarakat belum seantusis saat ini. Kami hanya mendapatkan 3 orang calon siswa yang bersedia menyekolahkan anaknya di SA. Kemudian kami berkeliling dari rumah ke rumah di luar lingkungan Ciganjur untuk menyebarkan brosur sekolah yang akan kami buka sekitar bulan Juli 1998.

Ternyata hingga Juni 1998, belum ada masyarakat yang berniat menyekolahkan putra-putrinya di SA. Hingga akhirnya kami membuka open house pertama SA di bulan Juli 1998 dengan acara yang cukup menarik. Persiapan menuju acara open house tersebut bisa dibilang cukup menyenangkan. Bekerja bersama seluruh teman Sekolah Alam sampai malam hingga terlaksananya acara tersebut. Alhamdulillah Allah memberikan jalanNya. Beberapa calon orang tua siswa berdatangan dan tertarik untuk menyekolahkan putra putrinya di SA.

Di acara open house itu kami mulai membuka pendaftaran siswa dengan biaya formulir gratis. Alhamdulillah ada sekitar 8 calon siswa yang akan bergabung di SA mulai dari jenjang Play Group (sekarang Kelompok bermain) hingga SD kelas 1.

Saat itu, karena calon PG hanya 1 orang. Kami gabungkan dengan siswa TK (tanpa jenjang A atau B) sehingga ada sekitar 5 orang. Sedangkan untuk tingkat SD ada sekitar 3 orang siswa. Pembelajarannya sendiri baru dimulai sekitar bulan Agustus 1998.

Setelah KBM berjalan sekitar kurang lebih 3 bulan tanpa Kepala Sekolah. Akhirnya kami mencari seorang yang mau menjadi Kepala Sekolah. Mulailah kami mencari calon Kepala Sekolah Alam dari elemen luar karena teman-teman yang saat itu bergabung di SA hanya dipersiapkan untuk mengajar saja. Pencarian kami mulai dengan pemasangan iklan di beberapa media cetak nasional hingga akhirnya kami dipertemukan dengan Bapak Bharata Adhi Darma.

Setelah SA memiliki Kepala Sekolah, mulailah aku belajar komputer untuk dipersiapkan sebagai tenaga administrasi. Sungguh pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa. Belajar membuat tabel, membuat surat, membuat daftar siswa, membuat daftar guru, dan sebagainya. Terima kasih Pak Bharata yang telah banyak membimbing dan menyemangatiku. Akhirnya aku tidak ragu lagi menggunakan komputer.
Saat itu komputer sekolah hanya satu. Sehingga harus saling bergantian dan menunggu giliran untuk mengetik. Ya, sungguh indah berbagi dan bersama.

Pekerjaanku di admin berlanjut hingga kini. Namun pengalamanku di Sekolah Alam Indonesia tidak hanya di administrasi. Aku pernah di perpustakaan. Aku pernah membantu mengajar di Play Group. Aku pernah menjadi panitia konsumsi di OTFA. Aku pernah menjadi PAK di OTFA. Sungguh teramat banyak pembelajaran yang aku dapatkan di Sekolah Alam Indonesia. Sepertinya Sekolah Alam adalah memang rumahku yang kedua.

@Bu Asih

One thought on “Rumah Keduaku “SEKOLAH ALAM INDONESIA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: