Tak Sekedar Rapor

Sebentar lagi pembelajaran di semester kedua akan berakhir. Kegiatan yang rutin dilakukan oleh semua sekolah di seluruh negeri. Sebuah kegiatan yang paling ditunggu oleh banyak siswa karena penasaran apakah naik ke kelas berikutnya ataukah tidak. Demikian pula di Sekolah Alam Indonesia, tempat kami mengajar dan mencintai anak didik kami. Bedanya adalah, di Sekolah Alam Indonesia kegiatan membagikan rapor menjadi momen yang paling ditunggu oleh orang tua. Bukan karena ingin melihat angka yang tertera di rapor. Bukan. Tapi justru untuk melihat deskripsi rapot perkembangan siswa yang biasa kami sebut dengan rapor biru. Setelah membaca rapor biru tersebut, orang tua akan mendapatkan kesempatan ber’konsultasi’ dengan para fasilitator tempat putra putri mereka berada.

Kenapa hal ini menjadi menarik? Karena angka bukanlah segala-galanya. Itu mungkin yang saat ini mulai masuk menjadi sebuah “nilai” yang ada di dalam benak para orang tua. Dan dari hasil perkembangan siswa tersebut, orang tua akan tahu apa saja yang telah dicapai putra putrinya dalam hal akhlak, kepemimpinan, dan kognitif.

Perjalanan panjang rapot perkembangan siswa berasal dari assessment-assessment harian yang dilakukan oleh para fasilitator. Perkembangannya bukan hanya dilakukan setiap akhir semester, akan tetapi dilaksanakan setiap kali pembelajaran dengan penuh perhatian. Pernah suatu kali saya lupa membuat assessment untuk anak-anak. Alhasil, ketika merekap assessment itu, saya harus mengingat kembali apa saja yang terjadi saat pembelajaran itu. Sungguh tantangan yang luar biasa karena harus mengingat secara detil kejadian siswa per siswa. Bukan apa-apa, assessment yang telah kami buat akan menjadi sebuah pertanggungjawaban seorang pendidik kepada orang tua siswa dan kepada siswa itu sendiri.
Banyak orang mengira bahwa membuat rapot itu mudah, tinggal mengamati siswa dan menuliskannya ke dalam sebuah laporan yang telah disiapkan. Tapi sejatinya bukan hanya seperti itu sebuah rapor dibuat. Indikator yang telah disiapkan dari awal pembelajaran merupakan barometer utama untuk melihat apakah siswa telah mencapai tahapan seperti yang diharapkan ataukah belum. Dan indikator-indikator ini pun tidak begitu saja dibuat. Tapi melalui sebuah rangkaian proses yang panjang, dengan melihat psikologi tahap perkembangan anak dan dengan kajian yang cukup lama.

Pengisian indikator pencapaian juga bukanlah perkara mudah. Kami harus mengkolaborasikan antar tiap assessment yang sudah kami buat. Karena pendidikan yang dijalani di sekolah bukanlah pendidikan yang instan, tapi adalah sebuah proses pembelajaran yang terus menerus. Maka assessment yang didapatkan juga bukanlah dari satu kali penilaian, tapi adalah penilaian harian yang dilakukan secara berkesinambungan. Dan kami sebagai seorang pengajar merasa sangat penting mengawal assessment ini sebagai evaluasi bagi kami dalam mendidik siswa-siswa kami. Setelah rapor selesai dibuat, tibalah saat membagi rapor ke orang tua sekaligus konsultasi.

Konsultasi rapor merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh orang tua siswa. Di dalamnya, guru menyampaikan perkembangan siswa selama berada di sekolah baik secara akhlak, kepemimpinan, maupun leadership. Sedangkan orang tua menyampaikan perkembangan siswa di rumah. Saat inilah saat yang krusial, karena disini guru dan orang tua dapat menyatukan visi dan harapannya terhadap siswa, mencari dimana kendala yang dialami, sampai ditemukan sebuah solusi dari kendala-kendala tersebut. Dan bukan hanya orang tua yang membutuhkan konsultasi ini, guru pun juga membutuhkan konsultasi ini untuk kepentingan perkembangan siswa di kelas. Sungguh perpaduan yang indah, bahwasanya pendidikan bukanlah tanggung jawab sekolah. Tapi dia adalah sebuah sinergi yang saling membangun dan melengkapi antara sekolah dan orang tua.

Dan saat ini, seperti biasa, kami kembali merekap assessment siswa-siswa kami. Berharap bahwa proses pembelajaran yang kami berikan memberikan peningkatan secara akhlak, kepemimpinan, dan kognitif kepada mereka. Sungguh proses pembelajaran bukanlah sesuatu yang instan, sehingga perkembangan sekecil apapun patut untuk dihargai, diapresiasi, dan dicatat dalam bingkai indah rapot perkembangan siswa. Hingga ketika mereka dewasa kelak, mereka akan ingat bahwa mereka telah menjalani proses pendewasaan yang demikian panjang. Bahwa sungguh tidak semestinya mereka mundur ke belakang, menjadi manusia yang kembali kekanak-kanakan. Justru sebaliknya, menjadi pribadi dengan karakter kebaikan yang kokoh. Di sini, di Sekolah Alam Indonesia, rapor bukanlah sekedar rapor.

Cipedak, 29 April 2016

@Bu Endah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: