Doa & Keyakinan (Bagian 2) – Oleh-oleh Outing SD 5 SAI Cibinong ke Ujung Kulon

Saya harus jujur, bahwa masih ada terselip cemas di hati saya. Cemas yang masih tetap bersemayam di hati, meskipun berulang kali berusaha menepisnya. Berusaha sekuat tenaga untuk menghalaunya. Toh dia tetap bertahan.

Salah seorang murid kami, terkadang muntah saat di perjalanan. Terbayang 9 jam perjalanan dengan bus dan disambung kapal 3 jam. Mungkin perjalanan terberat untuk Pejuang Cilik kami. Semua tim guru sepakat bismillah semua berjalan lancar.

Awal perjalanan, semua berjalan lancar. Semua tertidur dengan tenang. Masuk daerah Pandeglang, kami cari sarapan pagi. Anak-anak ingin makan bubur. Setelah 5 jam di bus, anak-anak ingin makan yang hangat. Alhamdulillah ketemu juga tukang bubur. Porsinya sedikit. Cukup buat kami, ibu guru, anak perempuan dan beberapa anak laki. Tapi untuk bapak-bapak guru dan 2 anak laki-laki porsinya terlalu sedikit. Jadi butuh porsi lebih. Hehehe

Perjalanan setelah ini adalah perjuangan untuk Pejuang Cilik kami dan juga kami semua. Belum lama berjalan, ananda sudah muntah. Keluar sudah yang dimakan. Muntah berkali-kali diiringi sakit kepala. Sedih rasanya. Tapi kami adalah pengganti orang tuanya selama outing. Tak ada cara lain selain menguatkan diri dan memotivasi Pejuang Cilik kami. Kami tau ada doa yang tak putus dari orang tua di rumah. Bismillah..

Teman saya yang luar biasa sabar dan hebat menemani di etape pertama. Kemudian saya minta bergantian dengan saya setelah itu. By feeling saya merasa teman saya mulai panik melihat kondisi Pejuang Cilik kami. Tapi sebagai guru muda, two thumb up for her.

Giliran saya menjaga Pejuang Cilik kami. Sudah setengah perjalanan. Saya hanya perlu meyakinkan diri saya dan membantunya untuk terus bertahan dan berjuang. Betul Pejuang Cilik kami berjuang dengan semua kemampuannya.
Sampai tempat tujuan, dengan dipapah, Pejuang Cilik kami sampai di persinggahan sementara. Butuh waktu untuk recovery. Kami, para guru saling menguatkan dan meyakinkan diri bahwa semua akan terlampaui. Tak ada yang mustahil jika Allah berkehendak. Dia Maha Mengetahui.

Alhamdulillah setelah terlewat 2 kegiatan, kegiatan ketiga sudah bisa diikuti. Sudah lebih segar dan kuat badannya. Tubuhnya sehat, kami yakin itu. Jadi semua akan baik-baik saja.

Malam hari, saat kami briefing, kembali rasa cemas timbul di hati kami. Perjalanan dengan kapal selama 2,5 – 3 jam menuju pulau Peucang. Kemudian kami kembali saling mengingatkan dan menguatkan bahwa kami harus yakin Pejuang Cilik kami akan sanggup melakukannya. Bismillah …. Pasrahkan semuanya kepada Allah.

Perjalan menuju pulau Peucang dimulai. Pejuang Cilik kami harus kembali berjuang menaklukan ayunan gelombang laut. Ibu guru yang sabar setia mendampinginya. Kami mendampingi murid yang lain.

sd5 pengungkit sai cibinong di pulau handeleum

Tujuan pertama kami adalah pulau Handeuleum. Kami mau mengamati merak dan rusa. Sampai dermaga pulau Handeuleum, dengan dibantu ibu kelasnya, Pejuang Cilik kami bersandar di dermaga. Tugas berikutnya adalah tugas saya. Pergantian tugas. Saya memapahnya sampai papan nama pulau Handeuleum. Istirahat sejenak. Bapak kelasnya cek lingkungan sekitar.

Pejuang Cilik kami dilanda sakit perut. Bapak guru yang membantu sebagai juru foto mengantarkannya kembali ke kapal. Saya beserta 2 ibu guru menjaga anak-anak yang lain. Teman saya yang juga membantu jadi fotografer sibuk mengambil foto anak-anak.

Sekembali dari kapal, Pejuang Cilik kami terduduk lemas. Pak guru yang jadi fotografer bicara,”Ayo semangat mas. Udah sampe nih kita di UK. Sayang kalau kamu ga menikmati. Kalau kami, guru-guru menjaga kamu sih sudah kewajiban dan kami tidak keberatan. Tapi kalau kamu ga bisa menikmati outing ini, kamu yang rugi. Inget-inget deh perjuangan kamu untuk pergi ke sini. Buka PO, jualan di Pakansari, dan presentasi. Ayo semangat mas.”
Pejuang cilik kami hanya

tertunduk. Sedih betul melihat kondisinya. Tapi kami harus kuat, karena rasa cemas, khawatir dan tak berdaya jika terlintas di kami, pasti akan sampai pada Pejuang Cilik kami. Ini tidak boleh terjadi. Kami harus yakin Pejuang Cilik kami mampu mengatasi ini semua.

Sambil tertatih-tatih Pejuang Cilik kami berjalan menuju tempat pengamatan di pulau Handeuleum. Berat baginya tapi tak ada cara lain selain memaksakan diri untuk bisa. Support selalu diberikan dari kami para guru pendamping. Prosesnya belum selesai, baru mulai berjalan. Kesabaran dibutuhkan untuk melakukannya.
Bukankah Allah beserta orang-orang yang sabar?

Setelah dari pulau Handeuleum kami menuju sungai Cigenter. Kapal kami tidak bisa merapat. Speed boat datang menjemput kami untuk sampai di muara sungai Cigenter. Kami menyusuri sungai Cigenter dengan cano. Pindah dari kapal kayu, ke speed boat dilanjutkan dengan cano. Bayangkan perjuangan yang harus dilalui Pejuang Cilik kami. Saat kondisinya kurang prima, Pejuang Cilik kami harus berjuang melakukan ini semua. Ibu kelasnya yang hebat selalu mendampingi. Kami katakan pada Pejuang Cilik,”Bertahan ya mas. Mas pasti bisa. Nanti kalau mual dan ingin muntah, muntah aja.”
Perjalanan menyusuri sungai Cigenter dimulai. Kami mengamati berbagai tumbuhan sepanjang kiri kanan sungai. Hewan yang terlihat beberapa burung terbang melintas. Tapi kedengaran suara-suara burung dan ayam hutan. Sayang guru bahasa Inggris yang lulusan biologi tidak seperahu dengan kami. Jadi pertanyaan tentang burungnya ditunda. Kami beruntung bisa melihat burung Raja Udang. Burung ini hinggap di pohon, kemudian dengan cepat menukik ke air mencari makan. Subhanallah…

 

Setelah dari menyusur sungai Cigenter, Pejuang Cilik kami minta duduk sebelah saya. Tak lama ia tertidur. Alhamdulillah bisa tidur. Tidurnya pulas, dan tak terganggu sedikit pun oleh alunan ombak.

Alhamdulillah akhirnya kami sampai ke pulau Peucang, tempat kami menginap selama di Ujung Kulon. Perjalanan dari sungai Cigenter ke pulau Peucang memakan waktu sekitar 1,5 jam. Saat mulai memasuki pulau Peucang, kami sudah tidak bisa mendapat sinyal hp. Well come to the nature!!!!

 

Semua turun dari kapal. Setelah semua barang diangkut, sholat, makan siang dan beristirahat, sore hari kami bermain di pantai.

Malam hari sebelum makan malam, saya memutuskan untuk berbicara kepada Pejuang Cilik kami.
“Mas, muntah itu biasa kok. Semua orang juga bisa muntah. Aku waktu ke Karimun Jawa juga muntah di kapal. Padahal kapalnya besar, kapal feri. Aku juga muntah berkali-kali. Tapi setelah muntah, aku makan atau minum seperti tadi waktu kamu kusuruh makan. Badan mas kuat kok. Kan mas sehat. Kalau ga sehat, mas ga bisa pergi sampe sini. Ayoo semangat mas. Nikmati outingnya.”
Pejuang cilik kami hanya diam membisu.
Setelah itu semua tim guru bergantian menyemangatinya.

Kami juga dapat ilmu baru dari awak kapal. Kata beliau, untuk menangkal mual dan muntah, minum antimonya malam sebelum tidur. Besok pagi sebelum berangkat minum lagi. Kami pun melakukan trik ini. Tak ada salahnya kan dicoba.

Malamnya Pejuang Cilik kami diberi antimo oleh suster kepala (julukan baru ibu kelasnya selama outing). Bapak kelasnya berusaha kasih semangat. Juga guru-guru yang lain. Setelah itu semua tidur. Saya tau ada banyak doa untuk kami dari para orang tua yang di rumah. Termasuk orang tua Pejuang Cilik kami. Pasti di rumah doa yang dilantunkan tak akan terputus. Mereka juga berharap Pejuang Ciliknya bisa mengikuti semua kegiatan outing dengan gembira. Bismillah doa yang mengiringi dan kekuatan keyakinan in syaa Allah akan membawa banyak kebaikan.

Paginya semua bersiap untuk kegiatan hari ke 3. Hari ini kegiatan diisi trekking Cibom – Ciramea – Tanjung Layar. Perlu naik kapal dari pulau Peucang ke Cibom. Dari kapal besar harus pindah naik boat karena kapal tidak bisa merapat ke Cibom. Perjuangan kembali.

 

Allah Maha Mendengar doa. Ternyata Pejuang Cilik kami bisa mengikuti kegiatan hari itu dengan baik. Begitu juga hari berikutnya. Mulai pengamatan ke Cidaon, lihat banteng, snorkling dan terakhir trekking ke Karang Copong. Kami semua senang luar biasa saat melihat tawa ceria Pejuang Cilik kami. Benar adanya bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya. Saat kami semua berkeyakinan bahwa Pejuang Cilik kami bisa mengikuti seluruh kegiatan outing, Allah memberikan kekuatan dan kesehatan pada Pejuang Cilik kami.
Subhanallah wal hamdulillah Allohu Akbar!!!

siswa sd5 sai cibinong memancing

 

Perjalanan pulang dilalui Pejuang Cilik kami tanpa hambatan. Ia bisa bercanda, bermain bersama teman-temannya. Kalau mengantuk, ia hanya tidur tanpa ada rasa mual. Kami begitu bahagia melihatnya. Perjuangan yang berbuah manis. Keyakinan dirinya membuat Pejuang Cilik kami bisa menikmati outing dan perjalanan pulang.
Alhamdulillah tsuma alhamdulillah.
Segala puji dan syukur hanya milik Allah yang mengizinkan ini semua terjadi.
Teruslah berjuang sayang! Taklukkan dunia dengan kedua tanganmu!
Jelajahlah bumi Allah untuk menambah syukur dan taatmu!

 

Bersambung …

 

Dian Arifianti

Guru Kelas SD 5 Pengungkit

Sekolah Alam Indonesia Cibinong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: