Doa & Keyakinan (Bagian 3) – Oleh-oleh Outing SD 5 SAI Cibinong ke Ujung Kulon

Ini terjadi pada malam terakhir di pulau Peucang, Ujung Kulon. Selain harus mengerahkan doa, keyakinan dan kesabaran, saya harus menggunakan logika saya. Kenapa? Karena saya sedang berhadapan dengan Profesor Muda kami.

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, ibu Suster Kepala membuka dagangannya. Semua berkumpul di depan ibu Suster Kepala. Ngapain? Ngantri jatah pil kina dan suplemen tambahan. Hahaha …
Rutinitas malam yang tak pernah terlewat karena ibu Suster Kepala sangat disiplin.

Semua orang yang ikut ke Ujung Kulon dapat jatah pil kina. Tidak terkecuali Profesor Muda kami. Bedanya Sang Profesor Muda kami memilih pil kina dalam bentuk puyer. Kenapa? Karena beliau tidak bisa minum pil dan teman-teman sejenisnya. Padahal pil kina itu pahiiitnya minta ampuuun. Beneran deh. Kebayangkan kalau bentuknya puyer. Saya orang pertama deh yang nolak puyer. Iiih ga kuat sama rasa pahitnya. Tapiii tiap orang punya pilihan masing-masing.

Seperti yang lainnya, Profesor Muda kami ikut mengantri di depan ibu Suster Kepala. Dengan sigap ibu Suster Kepala mencampur puyer kina dengan air.
Setelah campuran selesai diaduk, ibu suster kepala memberikannya kepada Profesor Muda kami. Saya hanya memperhatikannya. Sang Profesor Muda membuka mulutnya memasukkan sendok merah kecilnya ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian, puyer yang baru masuk mulut sebagian dilepehkan. Haaah saya kaget. Aduuuh udah susah payah nelen kok dilepeh siih. Entah kenapa emosi saya tersulut dan agak marah. Masih dengan marah, saya berkata,”Ok, jatah puyer kamu abis ya mas malam ini. Jadi sebagai gantinya kamu dapat pil.”

Selesai bicara saya tersadarkan, bahwa marah tidak menyelesaikan masalah. Marahnya saya tidak akan pernah membuat Profesor Muda kami jadi mau minum kina dalam bentuk pil. Tidak ada gunanya marah, saya harus mengubah strategi.

Jika saya coba menganalisa temperamen Profesor Muda kami, temperamen yang tampak salah satunya adalah Thinker (T). Temperamen yang sama dengan saya, sama-sama seorang Thinker. Untuk seorang Thinker, maka logika yang banyak berperan. Jadi saya hanya perlu memberikan alasan yang sesuai dengan logika Profesor Muda kami. Rasa kasihan dan iba tidak pernah masuk dalam logika seorang Thinker. Alasan logis lebih mudah diterima seorang Thinker bukan perasaan mellow yang timbul.

Saya berdoa kepada Allah agar diberi kesabaran dan kemudahan untuk memberi pemahaman kepada Profesor Muda kami. Bismillah… Saya coba untuk bicara kepada Profesor Muda kami. Kalaupun butuh waktu untuk meyakinkan Profesor Muda kami, maka saya akan melakukannya.

Diskusi pun dimulai. Mulai dengan apa yang Profesor Muda kami rasakan.
“Apa yang kamu rasakan? Takut?”
Ia mengangguk.
“Ga pa pa kok kalau takut. Semua orang bisa takut.
Kamu tadi lihat ga, bahwa aku orang terakhir yang sampai ke terumbu karang waktu tadi kita snorkling. Kenapa? Karena aku juga punya rasa takut. Aku perlu menenangkan diri dan meyakinkan diri bahwa aku bisa. Alhamdulillah setelah tenang, aku bisa snorkling. Ini kali pertama aku bisa menikmati snorkling. Karena pada akhirnya aku tau cara mengatasi jika air laut keminum. Kan rasanya pahit, ga enak.”
Profesor muda kami diam sejenak sambil memandang saya kemudian bertanya,”Bener ibu tadi takut?”
Saya mengangguk seraya berkata,”Aku tunggu ya, sampai kamu siap minum obatnya.”

Setelah itu bagaimana? Profesor Muda kami mau minum pil kinanya? Beluum. Proses diskusi berlanjut. Aku mengingatkan tentang proses pencernaan makanan yang sudah dipelajari.
“Aku tau bu. Tapi rasanya pilnya nyangkut di kerongkongan dan dadaku jadi sesak.”
Saya pengen tertawa. Tapi kan tidak boleh tertawa, karena kami sedang serius diskusinya.
“Gini mas, kerongkongan kamu kan lebih besar dari pil kina dan terjadi gerakan peristaltik kan. Jadi pil kinanya terdorong masuk lambung. Bukan masuk ke paru-paru.”
Profesor muda kami menatap saya dengan kening berkerut. Rasanya diskusi akan terus berlanjut. Masih diperlukan dalil lain untuk membuatnya percaya diri bahwa ia bisa menelan pil kinanya. Diskusi kami lanjutkan. Kali ini tentang imunitas tubuh. Cukup panjang kami membahasnya. Ibu Suster Kepala ikut menambahkan tentang anti body. Mata Profesor Muda kami sesaat kemudian berkaca-kaca. Ia tau harus menelan pil kina, ia tau fungsinya tapi rasa takut masih menguasainya.
” Kalau mau nangis ga pa pa kok mas. Kadang-kadang kita perlu juga untuk menangis.
Aku tetap nunggu sampai kamu bisa menelan pil kinanya.”

Sebetulnya kasihan melihat bagaimana galaunya Profesor Muda kami. Tapi saya yakin proses ini harus dilalui, bukan cuma semata minum pil kina. Tapi lebih meyakinkan dirinya bahwa semua bisa kita lakukan atas ijin Allah.
Jadi saya jelaskan bagaimana otak bekerja saat kita menolak atau takut sesuatu. Setiap kali saya memberi dalil baru, saya selalu memberi waktu bagi Profesor Muda kami untuk mencerna dan berfikir. Sambil menunggu, saya ijin ambil tas ransel untuk packing. Jadi saya menunggu sambil packing di hadapannya.

Setelah terus berfikir, Profesor Muda kami berkata,”Ibu bisa jelasin ga ke aku bagaimana cara minum pil ini?”
Saya jadi melongo. Ooo mas, sekarang saya jadi ikut bingung. Saya diam sejenak. Kemudian saya jawab,”Yah, ditaro di belakang lidah, terus telen.
Udah gitu aja. Kalau susah ya dibantu minum.”
Saya kemudian mengambil kapsul habbatussaudah dan menelan di depan Profesor Muda kami. Keningnya kembali berkerut. Hmmm belum tuntas rasanya.

Tak lama datang pak guru pendamping. Beliau heran melihat saya dan ibu Suster Kepala masih duduk di tengah ruangan bersama Profesor Muda kami. Beliau bertanya,”Ini lagi ngapain? Yang lain udah tidur?”
Saya mengangguk seraya menjawab,”Sedang menunggu yang mau minum pil kina.”

Ibu Suster Kepala segera memberi pil kina untuk diminum kepada pak guru pendamping.
Kesempatan baik, segera saya sambar dengan cepat,”Ayo pak jelasin dan praktekin cara minum pil kinanya.” Maka pak guru yang baik hati pun menjelaskan caranya dan mempraktekkannya. Berhasilkan meyakinkan profesor muda kami? Ternyata belum. Profesor muda kami masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya.

Saya kembali harus berfikir untuk meyakinkan sang Profesor Muda. Saya kemudian berkata,”Kamu udah tau ya mas kenapa kita harus minum pil kina. Kalau kita tidak minum, bisa terjadi 2 kemungkinan.
Kamu terkina gigitan nyamuk malaria tetap sehat atau jadi sakit malaria. Yang terakhir naudzubillah min dzalik. Kalau kena hisap nyamuk malaria, juga 2 kemungkinannya. Yang pertama jika cepat dapat pertolongan akan selamat tapi tetap bisa kambuh sewaktu-waktu. Kalau pertolongannya telat, bisa membawa kekematian. Dan keduanya tidak kami harapkan. Naudzubillah min dzalik.”
Profesor muda kami menatap saya,”Aku ga mau meninggal, bu.”
“Samalah dengan kami. Ga pengen sesuatu yang buruk menimpa kamu. Terutama saat kita bisa mencegahmya. Ayo dipikirkan lagi.”
Kami hanya bisa berdoa dan berharap kepada Allah.

Kebingungan kembali melanda Profesor Muda kami. Kami kembali memberinya kesempatan untuk berfikir. Sesaat kemudian, Profesor Muda kami berkata,”Aku minum pil kinanya, bu.”
“Minumlah. Baca bismillah.”
Ibu Suster Kepala juga terus memberi penguatan.
Setelah Profesor Muda kami membaca bismillah, ia mencoba menelan pil kinanya. Daaan berhasil dengan dibantu seteguk air.
Alhamdulillah tsuma alhamdulillah.
Segala puji dan syukur hanya milik Allah.

Pencapaian yang luar biasa. Prosesnya memang butuh waktu dan kesabaran. Kami bahagia dan bangga karena Profesor Muda kami berhasil melakukannya. Ucapan selamat dan rasa bangga kami ucapkan kepada Profesor Muda kami.
Daaaan Profesor Muda kami memutuskan minum pil kina saat minum hari berikutnya.
Barakallah ya, mas!

Doa dan keyakinan yang menghantarkan Profesor Muda kami bisa melakukannya.
Tak ada yang mustahil saat keyakinan itu ada dan Allah mengizinkannya.

 

Dian Arifianti

Guru Kelas SD 5 Pengungkit

Sekolah Alam Indonesia Cibinong

T: 021-8792 9608

IG: @sai_cibinong

FB: Sekolah Alam Indonesia Cibinong

tw:  @SAICibinong

YT: Sekolah Alam Indonesia Cibinong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: