Cabang SAI

MENGAPA KITA MEMBUKA CABANG SAI
Oleh: Novi Hardian (LitBang SAI)

Dua tahun yang lalu, tanggal 5 Februari 2010, puluhan calon orang tua siswa rela melakukan antrian yang panjang di halaman depan Sekolah Alam Indonesia. Mereka mengantri untuk mendapatkan formulir pendaftaran yang jumlahnya sangat sedikit. Peminatnya banyak, sementara daya tampung untuk siswa baru sangat sedikit. Banyak orang tua yang bagus visi pendidikannya, tapi pada akhirnya kami harus memilih. Saya berpikir, bagaimana solusinya?

Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah diskusi ringan, saya mendengar satu orang tua murid berkata: “Kita tak akan pernah bisa membangun peradaban, khususnya di dunia pendidikan, jika hanya ada satu Sekolah Alam Indonesia. Seharusnya SAI itu ada dimana-mana”. Selorohan itu ringan terasa, tetapi memiliki bobot. Menurut saya, Bapak itu berkata benar. Beberapa tahun yang lalu (lagi), dalam obrolan santai tetapi serius, saya juga mendengar salah seorang orang tua murid berkata: “Kita takkan
beranjak kemana-mana, jika kita hanya nguplek di Ciganjur saja”
. Sebuah kalimat yang singkat, tapi dalam. Menurut saya, Bapak ini berkata benar.

Beberapa tahun yang lalu (juga), beberapa guru tengah berkumpul dan diskusi serius memikirkan mau kemana Sekolah Alam Indonesia ini akan digulirkan dalam sejarah. Apa yang akan bisa kita sumbangkan kepada bangsa dan agama kita? Perjuangan ini pastilah berusia panjang, melebihi umur para pejuangnya. Diantara hasil diskusi itu antara lain adalah dua-tiga tahun ke depan kita akan membuka SAI baru di beberpa kota. Kini saat itu telah tiba.

Sekolah alam kini ada dimana-mana. Ada yang mengatakan bahwa jumlah sekolah alam ini ada sekitar 200 di seluruh Indonesia. Ini berarti pendidikan alternative berbasis alam semakin diminati dan dipercaya oleh masyarakat. Sekolah alam dimana-mana. Tapi kami tidak tahu bagaimana standar dan kualitasnya? Apakah dikelola benar-benar berbasis alam? Apakah dikelola dengan semangat dakwah dan komunitas? Sekolah Alam kini telah ada dimana-mana. Tentu saja memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Tersebarnya gagasan sekolah alam dimana-mana, saya kira adalah satu mimpi para penggagas sejak awalnya.

Sekolah Alam Indonesia adalah sekolah alam yang pertama. Kami disini, juga mempunyai mimpi. Kami percaya gagasan pendidikan alternative yang kami kembangkan dapat menjadi pilihan pendidikan yang baik, yang memberikan inspirasi bagi Indonesia. Di atas segala kekurangan dalam mengelola pendidikan ini, kami mempunyai cita-cita agar gagasan ini dapat tersebar kemana-mana. Tetapi, tak hanya tersebar, juga bias terkontrol penyebarannya. Karena pola pembelajaran berbasis alam dan pembentukan karakter anak didik di sekolah membutuhkan pendampingan yang bertahap, kontinu dan berkelanjutan. Berarti SAI baru jika dibentuk, harus mendapatkan perhatian dan supervise yang cukup dari pusatnya. SAI baru harus memiliki standar yang kurang lebih sama dengan di Ciganjur, khususnya dalam proses pengelolaan sekolah dan pembelajarannya serta dalam kualitas gurunya.

Tak lama setelah rencana strategis itu didiskusikan, datanglah dukungan satu per satu. Dua tahun lalu datanglah sekelompok orang tua dari Palembang menyampaikan keinginan untuk mendirikan sekolah alam seperti yang di Ciganjur. Mereka telah melakukan pencarian sekolah alam yang ada di Indonesia, mempelajari lalu membandingkan, lalu memutuskan Sekolah Alam Indonesia-lah yang mereka pilih. Kini telah berdiri Sekolah Alam Indonesia Bukit Siguntang, Palembang. Biasa kami sebut dengan SAI BUSI.

Memasuki tahun kedua SAI BUSI mempunyai 51 siswa dan 14 murid. Insya Allah akan bertambah lagi. Setahun yang lalu, seorang pengusaha dari Bengkulu yang ingin beramal di dunia pendidikan melaksanakan komunikasi dengan Ciganjur. Beliau sangat tertarik dengan konsep yang dikembangkan di SAI dan berkeinginan mereplikasi di kota Bengkulu. Di tahun pelajaran 2012-2013 ini terbentuklah SAI Bengkulu yang baru memiliki 4 guru dan 6 siswa. Selain itu, setelah melakukan curah pendapat dan diskusi teknisyang sangat panjang, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan 3 (tiga) SAI baru secara serempak, di Meruyung (Parung) dengan 4 guru dan 28 siswa, Studio Alam (Depok) dengan 6 guru dan 31 siswa serta Cibinong (Jawa Barat) dengan 3 guru dan 6 murid. Pembukaan SAI baru tersebut adalah salah satu ikhtiar untuk menjawab kegundahan kami atas semua pertanyaan di masa lalu yang tak kunjung ada solusinya. Setidaknya, pembukaan SAI baru juga usaha kecil agar secara perlahan kita dapat menyebarkan visi pendidikan SAI di tempat lain. Insya Allah selanjutnya akan menyebar di seluruh Indonesia.
Apakah kami sudah siap untuk ini semua? Kami hanya dapat katakan bahwa kami optimis. Tidak ada yang mudah saat melakukan ini semua. Kami memutuskan aksi harus dilakukan. Kami memilih menjadi bagian orang yang bekerja keras membuat mimpi itu terjadi. Bukan hanya sekedar bermimpi lalu seolah-olah terjadi atau hanya melihat orang lain mewujudkan mimpi itu. Tentu saja tidak ada yang bisa dilakukan kecuali terus menambah kapasitas kami, membuat rencana yang baik, bekerja keras menjawab setiap tantangan yang datang di lapangan serta berdo’a agar Allah memudahkan segalanya.

[pb_builder]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *