Sekolah Lanjutan

Sekolah Alam Indonesia sebagai institusi pendidikan menghendaki lahirnya generasi pemimpin yang berakhlak mulia dan cerdas.  Dalam mencapai cita-citanya, SAI mengklasifikasikannya ke dalam 3 pilar yaitu akhlak, leadership dan logika berpikir ilmiah. Semua pembelajaran di SAI mengacu kepada 3 pilar tersebut.

Sekolah Lanjutan (SL-SAI) memiliki goal besar yang sama, namun dengan target yang lebih spesifik yaitu “mengantarkan anak menuju kedewasaan”. Pilar leadership di level SL ada tujuh tahap, yaitu ketrampilan hidup mengenal diri sendiri, berkomunikasi,  belajar untuk belajar, bernegosiasi, membuat keputusan, bekerja dalam kelompok dan memimpin kelompok.

Penanaman dan pengujian nilai-nilai kepemimpinan pada level SL biasanya dilakukan dalam program SL seperti OTFA, outing kelas, magang, live in dan lain-lain, baik dalam aktivitas pembelajaran di kelas maupun aktivitas keseharian di sekolah. Misalnya, pada program OTFA SL ke gunung atau ke pantai, pembekalan yang dilakukan bukan hanya pembekalan fisik, tapi juga penanaman konsep diri yang positif, komunikasi dan bekerja dalam kelompok, memimpin kelompok, negosiasi lintas kelompok, bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Pembekalan dilakukan dalam bentuk low impact, dinamika kelompok, mendirikan tenda kelompok, merencanakan menu makan saat OTFA hingga latihan memasak menu tersebut.

Dinamika yang terjadi mulai dari pembekalan hingga hari H sangatlah banyak, mulai dari kelompok yang tidak solid, adanya siswa yang mementingkan diri sendiri sehingga dimusuhi anggota kelompoknya, adanya siswa yang terbiasa dilayani dan tidak terbiasa melayani hingga membuat ketua kelompok terpancing emosinya dan lain-lain. Oleh karena itu dibutuhkan guru kelas atau fasilitator OTFA yang dapat mengelola dinamika yang terjadi dan merefleksikannya bersama siswa sehingga dinamika yang dialami siswa menjadi suatu hal yang positif pada akhirnya.

Dalam kegiatan KBM di kelas, penanaman dan pengujian nilai-nilai kepemimpinan juga dilakukan. Metode pembelajaran co-operatif learning yang dilakukan membuat siswa belajar dalam kelompok kecil. Fasilitator kelas akan menawarkan kepada siswa untuk menjadi pemimpin kelompok. Kemudian siswa yang menjadi pemimpin kelompok berhak memilih anggota kelompoknya dan berkoordinasi dengan anggota kelompok untuk melakukan pembagian tugas.

Dinamika yang terjadi pada proses ini biasanya tidak ada siswa yang berinisitatif untuk menjadi pemimpin kelompok, negosiasi yang alot antar sesama pemimpin kelompok dalam menentukan anggota kelompok, adanya siswa yang ditolak untuk menjadi anggota kelompok, dan lain-lain Dengan banyaknya dinamika yang dialami siswa selama proses pembelajaran di SL dan refleksi yang dilakukan bersama fasilitator membuat kemampuan leadership siswa SL secara umum menjadi terasah. Terutama dalam hal memimpin kelompok, bekerja dalam kelompok, berkomunikasi, bernegosiasi. Adapun hal-hal yang masih perlu ditingkatkan mengenai konsep diri yang positif, kemampuan belajar untuk belajar dan keberanian mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Kajian dan diskusi masih terus dilakukan dalam rangka memperbaiki diri, berinovasi untuk menyempurnakan pilar leadership di SL hingga bisa mempertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT  amanah ‘Mengantarkan anak menuju kedewasaan (siap menjadi seorang mukallaf, seorang yang siap memikul beban/amanah). (Budi Setiawan. Kepala Sekolah Lanjutan SAI)